- Riwayat Hidup Penerima Ajaran
- Sejarah Penerimaan Ajaran
- Pengembangan Ajaran
- Kejawen
- Tentang Maha Pencipta
- Tentang Alam Semesta
- Tentang Manusia
- Hubungan Manusia dengan Maha Pencipta
- Hubungan Manusia dengan Alam Semesta
- Hubungan Manusia dengan Manusia Lainnya
RIWAYAT HIDUP PENERIMA AJARAN
Tokoh yang pertama kali menggali, mendalami dan merumuskan ajaran KAWRUHANA adalah Rama Pamadya Aditya R. Kertawidjaja. Beliau lahir di Surabaya, Jawa Timur pada tanggal 9 September 1980 dan merupakan putra pertama dan dua bersaudara.dari pasangan Z.M. Rachman dan R.Ngt. Ermy Friyantini.
Walaupun lahir di Surabaya, namun masa kecil beliau pernah tinggal di Banyuwangi, Jawa Timur bersama dengan kakeknya ( Garis Keturunan dari Ibu) yaitu Raden Jachman sementara kedua orang tua beliau masih menetap di Surabaya, Jawa Timur. Raden Jachman merupakan penganut sistem kepercayaan Jawa atau Kejawen secara turun temurun, sehingga karena kedekatan antara cucu dan kakek inilah Rama Pamadya Aditya R. Kertawidjaja banyak mengetahui ajaran Kejawen.
Pada saat usia 9 tahun, beliau pindah ke Pasuruan, Jawa Timur mengikuti kepindahan orang tua dikarenakan pekerjaan hingga beliau beranjak remaja. Walau berada di Pasuruan, Jawa Timur, kedekatan antara cucu dan kakek masih terjalin dengan baik. Sebab, sang kakek yaitu Raden Jachman sangat intens untuk menjenguk cucunya hingga akhir hayatnya.
Selain dari Raden Jachman, tradisi Kejawen juga beliau dapatkan dari ayah beliau yang memiliki tradisi merawat pusaka keris secara turun-temurun. Saat ayah beliau memberinya kepercayaan untuk melanjutkan tradisi merawat pusaka keris milik keluarga dari garis keturunan ayah, maka sejak saat itulah beliau mulai lebih dalam memahami makna keris dalam sudut pandang kepercayaan Kejawen sekaligus melanjutkan tradisi keluarga dalam merawat pusaka.
Pada tahun 1999, Rama Pamadya Aditya R. Kertawidjaja memutuskan untuik merantau ke Bali guna melanjutkan perguruan tinggi. Selama 10 tahun menetap Bali, beliau mendapati banyaknya persamaan antara apa yang pernah diajarkan kakek beliau perihal Kejawen dengan kultur kepercayaan masyarakat Bali terutama berkaitan dengan pemahaman terhadap kesakralan aksara Bali yang tidak jauh berbeda dengan kesakralan aksara Jawa.
Pada tahun 2010, tepat lima tahun setelah terjadinya tragedi bom Bali II, beliau memutuskan untuk kembali ke Pasuruan, Jawa Timur. Sejak kepulangan beliau inilah menjadi satu titik balik terhadap pendalaman ajaran-ajaran Jawa atau Kejawen baik dari meneruskan tradisi yang pernah dijalankan oleh kedua kakeknya maupun pemahaman-pemahaman yang beliau dapat semasa beliau berada di Bali. Hingga pada tahun 2012 beliau mulai merangkum dan merumuskan sebuah ajaran Jawa yang dinamakan ajaran KAWRUHANA yang digunakan sebagai laku pribadinya.
Pada tahun 2018, beliau memutuskan untuk membuat suatu wadah atau paguyuban dan diberi nama Satya Bumiputra guna mengajarkan ajaran KAWRUHANA bagi siapa saja yang ingin mengetahuinya.
Pada tahun 2021, beliau bersama dengan para pinisepuh dari beberapa paguyuban yang ada di Kota/Kab. Pasuruan kemudian membentuk DMD MLKI (Majelis Luhur Kepercayaan Terhadap Tuhan yang Maha Esa – Indonesia) Kota Pasuruan – Jawa Timur dimana tujuannya untuk membina kerukunan baik antar sesama paguyuban penghayat kepercayaan maupun dengan pemerintah daerah juga agar regulasi terhadap perubahan kolom agama menjadi kolom kepercayaan pada adminduk dapat terakomodir dengan baik. Pada tahun 2024 Paguyuban Satya Bumiputra yang didirikan oleh beliau melakukan pengajuan Tanda Inventarisasi (TI) pada Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan YME dan Masyarakat Adat di bawah naungan Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi dengan Nomor Tanda Inventarisasi (TI) NO. 09/TI-KMA/05/2024.
SEJARAH PENERIMAAN AJARAN
KAWRUHANA adalah sebuah ajaran Jawa atau Kejawen yang dirumuskan oleh Rama Pamadya Aditya R. Kertawidjaja dari beberapa ajaran yang pernah diwariskan oleh kedua kakek beliau yaitu Raden Jachman (dari Ibu) dan Ida Bagoes Pratikta Kertawidjaja (dari Ayah).
Awal mendapatkan ajaran dari Raden Jachman di karenakan masa kecil beliau pernah tinggal di Banyuwangi, Jawa Timur bersama kakeknya ( Garis Keturunan dari Ibu) yaitu Raden Jachman, sementara kedua orang tua beliau masih menetap di Surabaya, Jawa Timur.
Raden Jachman merupakan penganut sistem kepercayaan Jawa atau Kejawen secara turun temurun sehingga karena kedekatan antara cucu dan kakek inilah Rama Pamadya Aditya R. Kertawidjaja banyak mendapat pendidikan ajaran Kejawen baik yang berkaitan dengan kesakralan Aksara Jawa (Parama Sabda), kebiasaan menggunakan sesaji dan Tapa Bhrata di sebuah ruangan khusus yang diberi nama Sepen/Sentong hingga adat istiadat dan tradisi Jawa lainnya menurut sudut pandang sistem kepercayaan Jawa atau Kejawen yang dijalankan oleh Raden Jachman yang juga seorang Pranata Adicara dalam prosesi upacara adat Jawa.
Raden Jachman sendiri sebenarnya berasal dari Bagelen, Purworejo, Jawa Tengah yang merupakan salah satu putra dari pasangan Raden Prawira Rasiman Soedira dan Ngatirah yang berasal dari Bagelen, Purworejo, Jawa Tengah.
Selain dari Raden Jachman, pemahaman ajaran Kejawen lainnya juga beliau dapat dari ayahnya saat beliau diberi kepercayaan oleh sang ayah untuk melanjutkan tradisi merawat pusaka keris milik Ida Bagoes Pratikta Kertawidjaja (kakek), milik Ida Bagoes Hardja Hamidjaja (buyut) hingga milik Ida Bagoes Kertawidjaja atau Eyang Kerta (Eyang Canggah) dari garis keturunan ayah, maka sejak saat itulah beliau mulai lebih dalam memahami makna keris dalam sudut pandang kepercayaan Kejawen sekaligus melanjutkan tradisi keluarga dalam merawat pusaka.
Berdasarkan cerita yang disampaikan secara turun-menurun, eyang canggah beliau dari garis keturunan ayah memang berasal dari Gedeg, Mojokerto, Jawa Timur. Sementara buyut beliau yaitu Ida Bagoes Hardjahamidjaja saat dewasa berpindah tugas dari Mojokerto, Jawa Timur ke Kab. Pasuruan, Jawa Timur tepatnya di desa Bayeman, Kec. Gondang Wetan, Kab. Pasuruan hingga lahirlah kakek beliau yaitu Ida Bagoes Pratikta Kertawidjaja..
Tidak hanya tradisi merawat pusaka keris, tradisi-tradisi lain dari garis keturunan Eyang Kerta seperti melakukan Hatur Puja, Tapa Bhrata dan Tapa kum-Kum juga menjadi bagian dari ritual yang sering dilakukan oleh Rama Pamadya Aditya R. Kertawidjaja dalam melanjutkan tradisi yang pernah dijalankan oleh leluhur sebelumnya dari garis keturunan ayah beliau.Selain meneruskan tradisi yang dilakukan oleh kedua kakeknya, pemahaman tentang ajaran Kejawen lainnya juga beliau dapatkan ketika saat remaja beliau pernah merantau ke Bali.
Tepatnya pada tahun 1999 Rama Pamadya Aditya R. Kertawidjaja melanjutkan perguruan tinggi, menetap,bekerja hingga berkeluarga di Bali. Selama 10 tahun menetap Bali, beliau merasakan ada banyak persamaan antara apa yang diajarkan kakek beliau perihal Kejawen dengan kultur kepercayaan masyarakat Bali terutama berkaitan dengan pemahaman terhadap kesakralan aksara Bali yang tidak jauh berbeda dengan kesakralan aksara Jawa. Lima tahun setelah terjadinya tragedi bom Bali II, tepatnya di tahun 2010 beliau memutuskan untuk kembali ke Pasuruan, Jawa Timur.
Pada tahun 2012, saat beliau melakukan Hatur Puja di Candi Jawi yang dilanjutkan dengan ritual Tapa Kum-Kum di Patirthaan Jalatunda, menjadi titik balik dimana dalam perenungannya, beliau tergugah hatinya dan perlahan-lahan mulai merangkai dan merumuskan kembali semua ajaran yang pernah beliau dapatkan, baik dari kedua kakeknya maupun dengan segala pengetahuan yang telah dimilikinya. Sebuah catatan kecil yang pernah beliau dapat dari sebuah buku catatan kakeknya yaitu : “Bapa Sang Hyang Akasa, Ibunta Sang Hyang Prthiwi, patemon Bapanta kalawan Ibunta metu raganta jati” yang maknanya “I Bapa adalah Sang Hyang Akasa “eter, ruang”, sebaliknya I Meme adalah Ibu Prthiwi “zat padat, bumi”. Pasangyoga “sanggama” mereka berdua itulah yang melahirkan dirimu” dikaitkan dengan Manjinge Curiga kalawan Warangka sebagai bentuk Nyawijine Bapa Akasha lan Ibu Bumi juga pemahamannya terkait Rwa Bhinneda menjadi bagian dari sebuah proses yang panjang dan kompleks dalam membuat rangkuman serta rumusan suatu ajaran sehingga pada akhirnya dinamakanlah ajaran tersebut dengan nama ajaran KAWRUHANA, yang berasal dari kata KAWRUH berarti Pengetahuan dan HANA, berasal dari Aksara Ha dan Na yang berarti atau Ada/Wujud yang juga dimaknai dengan “Hananingsun, Hananing Gusti, Hananira, Hananing Kawula”
PENGEMBANGAN AJARAN
Ajaran KAWRUHANA ini awalnya tidak pernah diajarkan kembali kepada siapapun akan tetapi lebih digunakan sebagai laku pribadi dan menjadi keyakinannya. Akan tetapi di bulan September tahun 2018, saat beliau melakukan Hatur Puja di Candi Jawi kemudian dilanjutkan dengan Tapa Bhrata di Patirthaan Jalatunda pada malam Purnama Sidhi seperti biasanya, tiba-tiba beliau kembali tergerak hatinya untuk menyampaikan ajaran KAWRUHANA kepada siapapun yang ingin mengetahuinya.
Beliau merasa sebagai putra Ibu Pertiwi memiliki tanggung jawab untuk meneruskan dan melestrarikan ajaran KAWRUHANA yang merupakan ajaran leluhur dari generasi ke generasi agar putra wayahipun Bapa Akasha lan Ibu Bhumi tidak melupakan siapa sejatinya Bapa – Biyung Ingsun kalawan Nira.
Sejak saat itu beliau mulai terbuka untuk menyampaikan ajaran KAWRUHANA kepada siapa saja yang ingin mengetahuinya. Bersama beberapa kadang kemudian membuat aktifitas berkumpul setiap malam Rabu dan dinamakan Reboan sehingga kemudian pada tanggal 10 November 2018 mendirikan sebuah paguyuban yang bernama Satya Bumiputra guna mengakomodir siapa saja yang ingin mengetahui dan memperdalam ajaran KAWRUHANA juga sebagai Penghayat Kepercayaan. Untuk mempermudah dalam mengenalkan ajaran KAWRUHANA, beliau memanfaatkan media sosial seperti Youtube, Instagram maupun Tik-Tok sebagai sarana pengenalan ajaran sehingga kadang Satya Bumiputra tidak hanya berasal dari Pasuruan, Jawa Timur akan tetapi juga berasal dari berbagai wilayah di Indonesia.
KEJAWEN
KAWRUHANA adalah salah satu diantara beragamnya ajaran Kejawen yang tumbuh dan berkembang selama ini. Dalam prespektif ajaran KAWRUHANA, Kejawen dipahami sebagai ajaran leluhur Jawa Kuno yang berakar dari Kapitayan. Kapitayan berasal dari bahasa Jawa dengan kata dasar Pitaya yang artinya Yakin/Percaya sehingga makna dari Kapitayan adalah Kepercayaan atau Sistem Kepercayaan yang merujuk pada suatu ajaran, kepercayaan atau tradisi Jawa Kuno yang diwariskan secara turun-temurun dari nenek moyang, khususnya sebelum masuknya pengaruh agama-agama dari luar.
Ajaran Kapitayan menekankan pada penghormatan (pemujaan) kepada leluhur dimana dalam konsep ajaran Kapitayan, Langit dan Bumi dipersonafikasikan sebagai Bapa Akasha dan Ibu Bumi (Bapa lan Biyung) yang merupakan “nenek moyang” semua makhluk. Dalam Bahasa Jawa Kuno atau bahasa Kawi disebutkan “Bapa Sang Hyang Akasa, Ibunta Sang Hyang Prthiwi, patemon Bapanta kalawan Ibunta metu raganta jati” yang maknanya : “I Bapa adalah Sang Hyang Akasa “eter, ruang”, sebaliknya I Meme adalah Ibu Prthiwi “zat padat, bumi”. Pasangyoga “sanggama” mereka berdua itulah yang melahirkan dirimu”.
Ajaran Kapitayan mengalami perkembangan dari masa ke masa yang kemudian dikenal dengan istilah Kejawen. Kejawen berasal dari kata Kejawian dari kata dasar Jawi sebuah singkatan dari Jawa Kawiwitan guna medeskripsikan sistem kepercayaan masyarakan Jawa Kuno yang berakar dari Kapitayan. Jenis rumpun bahasa yang digunakan pada masanya dinamakan bahasa Jawa Kuno atau Bahasa Kawi (termasuk dalam rumpun bahasa Austronesia) yang kemudian berkembang hingga saat ini menggunakan bahasa Jawa Baru. Dalam ajaran Kejawen tidak terpaku pada penggunaan bahasa Jawa kuno akan tetapi lebih menekankan pada penggunaan bahasa “Ibu”. sehingga sangat mungkin mengalami perkembangan namun tidak menghilangkan akar bahasanya.
Ada dua pokok utama yang diajarkan dalam ajaran Kejawen yaitu Tansah Eling lan Waspada. Sebuah pesan moral yang selalu di tutur-kan atau disampaikan oleh para pendahulu atau leluhur dari generasi ke genarasi adalah “Dadi Wong Jawa kuwi aja nganti ilang “Jawa”ne. Kudu tansah Eling lan Waspada marang sapadha-padha” yang artinya “Jadi orang Jawa itu jangan sampai kehilangan “Jawa”nya, harus senantiasa Sadar dan Peka/Tanggap terhadap segala hal”. Dari prespektif ini maka ajaran KAWRUHANA bisa dikatakan sebagai salah satu ajaran Kejawen dari beragam ajaran yang ada dan diwariskan untuk menjalankan pesan moral para leluhur terdahulu.
Kata Eling dalam ajaran KAWRUHANA dimaknai dengan istilah SADAR, oleh sebab itu ajaran KAWRUHANA lebih menekankan kepada kesadaran diantaranya :
- Kesadaran manusia sebagai makhluk-Nya
- Kesadaran manusia sebagai bagian dari alam semesta
- Kesadaran manusia sebagai makhluk sosial.
Kesadaran manusia terhadap tiga aspek tersebut akan membentuk sebuah kesadaran dalam diri pribadi manusia tersebut agar selalu senantiasa sadar dalam berperilaku atau bertindak, sadar dalam merasakan, sadar dalam berpikir hingga sadar dalam bertutur kata atau berbicara.
Kesadaran demi kesadaran tidak akan mungkin dapat terbentuk tanpa adanya kewaspadaan (Waspada) atau kepekaan, baik peka terhadap keadaan diri sendiri maupun peka terhadap keadaan di sekitarnya. Demikian juga kepekaan atau kewaspadaan dapat terbentuk apabila manusia dapat memahami segala aspek yang ada dalam kehidupannya melalui wulang-wuruk atau pengulangan pengajaran yang telah di dapat dari para pendahulunya. Pengulangan pengajaran ini akan menjadi sebuah pakulinan (Kebiasaan) yang kemudian melekat menjadi sebuah sifat di dalam diri manusia dan nilai-nilai kesadaran dengan sendirinya akan terkandung dalam sifat-sifat tersebut.
KAWRUHANA adalah dimana kata KAWRUH artinya adalah Pengetahuan/Pemahaman dan HANA artinya adalah Ada/Wujud sehingga apa yang dimaksud dengan kahanan adalah suatu keadaan atau perwujudan. Sehingga terjemahan bebas dari KAWRUHANA adalah pengetahuan/pemahaman tentang sesuatu yang ada/wujud dalam suatu keadaan dalam kehidupan. Dalam bahasa Jawa bisa dikatakan juga tentang “Ngawruhi urip, kahuripan lan panguripan” (Mengetahui/memahami/menghayati serta menjalankan hidup, kehidupan dan penghidupan).

MAKNA LAMBANG AJARAN
Lambang Ajaran KAWRUHANA menggunakan Dwi Wija Aksara Jawa yaitu aksara Ha dan aksara Na.membentuk lingkaran dan di luar terdapat sasanti menggunakan aksara Jawa yang bertuliskan : “Hananingsun Hananing Gusti, Hananira Hananing Kawula“.
Ajaran KAWRUHANA disebut juga dengan ajaran JAWA dari pemahaman kata Ja–ler (Bapa Akasha) lan Wa–don (Ibu Bumi). Bapa Akasha disimbolkan dengan aksara “Ha” pada aksara Jawa yang juga dimaknai dengan Kejantanan (Ja–ler) sedangkan Ibu Bumi disimbolkan dengan aksara “Na” pada aksara Jawa yang dimaknai dengan Kesuburan (Wa–don) sehingga Nyawijine Bapa Akasha lan Ibu Bumi, nyawijine aksara “Ha” lan aksara “Na” menjadi HANA yang artinya adalah ADA, maka yang disebut dengan “Kahanan” disebut juga dengan sebuah “Keadaan”.
Kata HANA terdiri dari dua aksara yaitu Ha dan aksara Na, dimana pada masing-masing aksaranya terkandung pemahaman tentang laku ELING lan WASPADA, Adapun makna dari kedua aksara tersebut antara lain :
Aksara Ha :
- Ha-memayu Hayuning Pribadi
- Ha-memayu Hayuning Kaluwarga
- Ha-memayu Hayuning Warga
- Ha-memayu Hayuning Bawana
Aksara Na :
- Na-ta Obah (Perilaku/Tindakan)
- Na-ta Manah (Perasaan)
- Na-ta Landhep (Pikiran)
- Na-ta Lathi (Ucapan)
Sasanti yang ada pada lambang ajaran KAWRUHANA yaitu : “Hananingsun Hananing Gusti, Hananira Hananing Kawula” memiliki makna bahwasannya keberadaan Roh/Sukma yang ada di dalam tubuh kita adalah atas keberadaan “Sang Hyang Jawata” atau Sang Maha Pencipta, sedangkan yang dimaksud dengan “Hananira Hananing Kawula” dimana kata “nira” ditujukan kepada semua leluhur kita hingga yang terpuncak yaitu Bapa Akasha dan Ibu Bumi sebagai “nenek moyang” semua makhluk termasuk diri kita (kawula).
TENTANG MAHA PENCIPTA
Ketuhanan menurut ajaran KAWRUHANA adalah Hananing Bapa Akasha kalawan Ibu Bhumi tanda yekti hananing Hyang Jawata ingkang “tan kena kinira tan kena kinaya ngapa” yang dapat dimaknai bahwa adanya Langit dan Bumi yang kemudian dipersonafikasikan sebagai Bapa Akasha dan Ibu Bumi atau Bapa kalawan Biyung adalah bukti adanya Hyang Jawata (Tuhan) atau Sang Maha Pencipta. Dengan kata lain untuk meyakini adanya Sang Maha Pencipta, menghormati, mengabdi dan memohon restu kepada Sang Maha Pencipta adalah dengan meyakini apa yang telah diciptakan-Nya, menghormati, mengabdi dan memohon restu kepada apa yang diciptakan-Nya yaitu Langit dan Bumi. Langit dan Bumi sebagai awal penciptaan diyakini sebagai “nenek moyang” semua makhluk dan dipersonafikasikan sebagai Bapa & Biyung (Bapa Akasha & Ibu Bumi) juga sebagai Pangeran kang Katon (Representasi Tuhan di dunia). Sehingga cara menghormati, mengabdi dan memohon restu-Nya adalah dengan menghormati, mengabdi dan memohon restu kepada Bapa & Biyung (Langit & Bumi atau Alam Semesta).
TENTANG ALAM SEMESTA
Pemahaman tentang Alam Semesta menurut ajaran KAWRUHANA diawali dimana Hyang Jawata menciptakan Langit yang kemudian disebut dengan Bapa Akasha setelah itu terciptalah Bumi yang disebut juga dengan Ibu Bumi. Bapa Akasha dan Ibu Bumi yang merupakan representasi jagad raya atau alam semesta atau disebut juga dengan Jagad/Bawana Ageng dimana terkandung empat unsur utama yaitu Air (Banyu), Tanah (Lemah) Api (Geni) dan Udara (Angin).
Dalam ajaran KAWRUHANA, Bapa Akasha disimbolkan dengan aksara “Ha” pada aksara Jawa yang juga dimaknai dengan Kejantanan (Ja-ler) sedangkan Ibu Bumi disimbolkan dengan aksara “Na” pada aksara Jawa yang dimaknai dengan Kesuburan (Wa-don) sehingga Nyawijine Bapa Akasha lan Ibu Bumi, nyawijine aksara “Ha” lan aksara “Na” menjadi HANA yang artinya adalah ada, maka yang disebut dengan Kahanan disebut juga dengan sebuah keadaan. Oleh sebab itu ajaran KAWRUHANA disebut juga dengan ajaran JAWA dari pemahaman kata Ja-ler (Bapa Akasha) lan Wa-don (Ibu Bumi).
Selain menciptakan Bapa Akasha dan Ibu Bumi, dalam ajaran KAWRUHANA, Hyang Jawata diyakini menciptakan Hyang Bhatara dan Hyang Bhatari dalam wujud yang tak kasat mata sebagai “Abdi Dalemipun Bapa kalawan Biyung” membantu menjaga semua makhluk hidup tidak terkecuali manusia.
Hyang Bhatara yang kemudian di beri nama Hyang Bhatara Kala sebagai Abdi Dalemipun Bapa Akasha dan bertempat di Ka-Hyang-an, sementara Hyang Bhatari yang diberi nama Hyang Bhatari Sri sebagai Abdi Dalemipun Ibu Bumi bertempat di Ka-Bumi-an.
Hyang Bhatara Kala maupun Hyang Bhatari Sri juga bertugas untuk menjaga putra-wayahipun (anak-cucu) Bapa Akasha dan Ibu Bumi sebagai Kaki Among dan Nini Among yang bertempat di Ka-Dhatu-an yaitu tempat dimana tumbuhan, hewan dan manusia hidup. Oleh sebab itu, dalam ajaran KAWRUHANA, bertemunya Hyang Bhatara Kala dan Hyang Bhatari Sri sebagai Kaki Among dan Nini Among ke Ka-Dhatu-an guna membimbing manusia menuju jalan “Kesadaran” atau Eling lan Waspada ma-ngeja wantah atau berwujud sebagai SangHyang Smara atau Bhatara Guru atau Eyang Semar seperti yang dikisahkan dalam epos cerita Jawa AJISAKA.
TENTANG MANUSIA
Dalam sebuah catatan berbahasa Jawa Kuna disebutkan “Bapa Sang Hyang Akasa, Ibunta Sang Hyang Prthiwi, patemon Batanta kalawan Ibunta metu raganta jati” yang maknanya I Bapa adalah Sang Hyang Akasa “eter, ruang”, sebaliknya I Meme adalah Ibu Prthiwi “zat padat, bumi”. Pasangyoga “sanggama” mereka berdua itulah yang melahirkan dirimu.
Berdasarkan pemahaman yang terdapat dalam catatan berbahasa Jawa Kuna diatas dapat diartikan dimana manusia terlahir dikarenakan nyawijine Ja-ler (Bapa Akasha) lan Wa-don (Ibu Bumi) yang diawali dengan lahirnya tumbuh-tumbuhan dan hewan sehingga dikatakan sebagai Sedulur Tuwa atau “Saudara Tua” sedangkan Bapa Akasha dan Ibu Bumi disebut sebagai Bapa-Biyung yang diyakini sebagai “nenek moyang” sebuah peradaban termasuk manusia di dunia.
Ketika alam semesta yang merupakan Jagad/Bawana Ageng di pahami sebagai “nenek moyang” manusia, maka manusia juga memiliki empat unsur yang sama halnya dengan alam semesta dan dikatakan sebagai Jagad/Bawana Alit.
Kaki Dan Hyang (Ki Hyang) dan Nini Dan Hyang (Ni Hyang) dimana keduanya diyakini sebagai leluhur pertama berwujud manusia yang “dilahirkan” oleh Bapa Akasha dan Ibu Bumi dan disebut Eyang Trah-Tumerah sampai dengan generasi ke-18. Semua keturunan dari satu generasi ke generasi berikutnya dinamakan Ti Hyang Jawata (Titisan Sang Hyang Jawata) kemudian disingkat menjadi Tiyang Jawa yang dalam bahasa Jawa Kuno dikatakan “Wong Jawa”. Adapun garis keturunan Tiyang Jawa sebagai berikut :
- Nenek Moyang : Bapa Aksha & Ibu Bumi
- Moyang ke-18 : Eyang Trah-Tumerah
- Moyang ke-17 : Eyang Menyo-menyo
- Moyang ke-16 : Eyang Menyaman
- Moyang ke-15 : Eyang Ampleng
- Moyang ke-14 : Eyang Cumpleng
- Moyang ke-13 : Eyang Giyeng
- Moyang ke-12 : Eyang Cendeng
- Moyang ke-11 : Eyang Gropak Waton
- Moyang ke-10 : Eyang Galih Asem
- Moyang ke-9 : Eyang Debog Bosok
- Moyang ke-8 : Eyang Gropak Senthe
- Moyang ke-7 : Eyang Gantung Siwur
- Moyang ke-6 : Eyang Udeg-udeg
- Moyang ke-5 : Eyang Wareng
- Moyang ke-4 : Eyang Canggah
- Moyang ke-3 : Eyang buyut
- Moyang ke-2 : Eyang
- Moyang ke-1 : Bapa lan Biyung
Setiap manusia yang lahir dan hidup diyakini memiliki empat saudara tak kasat mata atau Sedulur Papat yaitu Kakang Kawah yng berasal dari air ketuban, Adi Ari-ari yang berasal dari plasenta, Getih atau darah dan puser atau tali pusar. Sedulur Papat diyakini tidak hanya melindungi janin pada saat berada di dalam kandungan akan tetapi juga menyertai manusia sepanjang hidupnya.
HUBUNGAN MANUSIA DENGAN MAHA PENCIPTA
Menurut ajaran KAWRUHANA bahwa semasa menjadi janin di dalam kandungan tidak terlepas dari peran dari Sang Hyang Jawata (Tuhan) sebagai Sing Nduwe Urip atau Sang Maha Hidup.
Dimana janin di dalam kandungan diberi “hidup” atau roh/sukma oleh Hyang Jawata pada saat janin berusia + 105 hari atau sekitar 3,5 bulan. Oleh sebab itu pada usia kehamilan tersebut dilakukanlah suatu ritual yang dinamakan Neloni.
Peristiwa “bersemayamnya” Roh/Sukma dalam janin dijelaskan dalam mantra PARAMA SABDA berupa macapat (maca baris papat atau membaca empat baris) yang terdiri dari 20 aksara Jawa yaitu :

Ha Na Ca Ra Ka
Hananing daya Cipta, Rasa lan Karsa
Adanya daya Cipta, Rasa dan Karsa
Da Ta Sa Wa La
Daya kang rubeda lan sami nyawiji
Tiga kekuatan (daya/energi) yang berbeda namun saling bersinergi
Pa Dha Ja Ya Nya
Padha Digdayane
Memiliki (daya/energi) kekuatan yang sama.
Ma Ga Ba Tha Nga
Cumandhok ing raga dadya sukmaning manungsa
Merasuk dalam raga sebagai roh/sukma manusia.
Maka dalam ajaran KAWRUHANA yang dikatakan “Hananingsun, hananing Gusti” dimana kata “ingsun” merujuk kepada Roh/Sukma” yang bersemayam dalam tubuh manusia dan “Gusti” merujuk kepada Hyang Jawata/Kang Maha Urip atau Tuhan Yang Maha Esa.
Sangkan-Paran ing Dumadi memiliki arti emua yang berasal dari-Nya akan menuju kepada asal-Nya. Oleh sebab itu kata “mati” dalam bahasa Jawa memiliki makna “Manunggal mring Sejati” (Darimana roh berasal pada saatnya akan kembali menuju kepada asal-Nya).
Dalam ajaran KAWRUHANA, Sangkan-Paran ing Dumadi dijabarkan ke dalam 20 Aksara Jawa dengan dibaca dari depan ke belakang (aksara Ha s/d aksara Nga) dan dari belakang ke depan (Aksara Nga s/d aksara Ha). Dimana manusia lahir ke dunia pertama kali menghembuskan nafas melalui mulut dengan aksara Ha dan pada saat meninggal akan menghembuskan nafas terakhir melalui mulut dengan aksara Ha.
SANGKAN
HA NA CA RA KA DA TA SA WA LA PA DHA JA YA NYA MA GA BA THA NGA
PARAN
Siklus perjalanan Roh/Sukma yang bersifat kekal inilah dalam ajaran KAWRUHANA juga disebut sebagai Reinkarnasi sedangkan kembalinya Roh/Sukma kepada Sang Maha Pencipta disebut dengan Moksa. Dari pemahaman diatas maka pada dasarnya semua makhluk hidup pada dasarnya di dalam jasad/jasmaninya bersemayam Roh Tuhan yang tetap menjadi milik-Nya sehingga dikatakan Hyang Jawata kuwi cedhak tanpa senggolan adoh tanpa wangenan artinya adalah dimana Tuhan dekat tanpa batasan dan jauh tanpa batasan.
HUBUNGAN MANUSIA DENGAN ALAM SEMESTA
Dalam ajaran KAWRUHANA, Alam Semesta (Langit dan Bumi) tidak akan bisa terpisahkan dengan manusia. Maka dikatakan “Hananira, hananing kawula”. “Hananira” dimana “Nira” merujuk kepada Alam Semesta (Langit dan Bumi) sebagai “nenek moyang” bagi semua makhluk sebagai Bapa lan Biyung Ingsun kalawan Nira, sekaligus wujud “Pangeran kang Katon” sedangkan “Hananing kawula” dimana “kawula” merujuk pada semua makhluk tidak terkecuali manusia.
Alam Semesta (Langit dan Bumi) sebagai Bapa kalawan Biyung sekaligus wujud “Pangeran kang Katon” adalah tempat dimana kita meyakini, menghormati, mengabdi serta memohon restu-Nya karena restu Bapa kalawan Biyung diyakini adalah restu dari Sang Hyang Jawata (Tuhan YME). Oleh sebab itu Manunggaling Bawana Alit lan Bawana Ageng dimaknai sebagai wujud menyatunya manusia dengan alam semesta.
Sembah-Hyang atau Manembah marang Hyang dalam ajaran KAWRUHANA disebut juga Dharma Bhakti atauPangabhekten. Dharma Bhakti atau Pangabhekten adalah bentuk penghormatan, pengabdian dan permohonan restu kepada Bapa & Biyung dalam segala aspek kehidupan yang dijalankan oleh warga penghayat kepercayaan Satya Bumiputra.
Oleh sebab itu Dharma Bhakti atauPangabhekten merupakan bentuk Manunggaling Bawana Alit lan Bawana Ageng yang dimaknai sebagai wujud menyatunya manusia dengan alam semesta yang juga dikatakan dengan Manunggaling Kawula Gusti (Gusti disini merujuk kepada Pangeran kang Katon)
Dalam ajaran KAWRUHANA, Dharma Bhakti atau Pangabhekten tidak hanya dipahami dalam aspek ritual bersama sarana dan prasarana saja akan tetapi dipahami sebagai jalan menuju kesadaran (menguatkan ikatan batin) yang dilakukan di berbagai aspek kehidupan dalam setiap tarikan nafas dan hembusan nafas kita selama hidup di dunia.
Oleh sebab itu agar segala bentuk perbuatan, pikiran, perasaan dan perkataan kita senantiasa sebagai bentuk Dharma Bhakti atau Pangabhekten kita kepada alam semesta dan seisinya, dalam semua aspek tidak terkecuali harus kita pahami, hayati dan lakukan dengan segenap hati atau bersungguh-sungguh. Demikianlah mengapa para leluhur kita selalu berpesan, “yen urip kuwi kudu di ngati-ati” dimana artinya adalah bahwa hidup itu harus senantiasa ber-“hati-hati”. Kata “hati-hati” disini merujuk pada “segenap hati” sehingga apapun yang kita lakukan senantiasa terarah, terukur dan bisa dipertanggung-jawabkan.
Selain itu dalam ajaran KAWRUHANA selalu menerapkan prinsip “Ngajeni lan Nyanjeni marang liyan” yang artinya menghormati dan berupaya memberi yang terbaik kepada sesama (Alam semesta dan seisinya).
Perlunya “Ngajeni lan Nyanjeni marang sepadha-padha?” di karenakan Alam Semesta dan seisinya dimana tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia secara nyata saling memberikan kontribusi terhadap kehidupan. Terutama tumbuh-tumbuhan dan hewan sangat memberikan kontribusi yang cukup besar bagi kehidupan manusia. Udara yang di hirup, air, tanah, saripati tumbuhan dan hewan yang dikonsumsi, membangun satu ekosistem yang tidak bisa dipisahkan.
Itulah mengapa tumbuhan dan hewan dianggap sebagai “saudara tua”, karena tanpa adanya tumbuhan dan hewan maka manusia tidak mungkin bisa bertahan hidup di bumi ini sedangkan tanpa adanya manusia, tumbuhan dan hewan akan tetap bisa bertahan hidup di bumi ini. Namun bagaimanapun juga jika langit dan bumi ini tidak ada maka tidak akan mungkin ada tumbuhan, hewan dan manusia.
Oleh sebab itu di dalam ajaran KAWRUHANA, manusia perlu memberikan penghormatan setinggi-tingginya kepada langit dan bumi. Tidak hanya memandang langit hanyalah sebuah tempat gugusan awan, matahari, bulan dan bintang bertengger akan tetapi sebagai “BAPA” nya makhluk hidup tidak terkecuali manusia.
Sosok “BAPA” yang selalu memberikan kasih sayang, terkadang hujan badai disertai petir seakan “beliau” sedang marah, terkadang cerah dengan angin yang spoi-spoi seperti “beliau” sedang berbahagia.
Sebagaimana bumi tidak hanya dipandang sebagai gundukan tanah hingga menjadi gunung dan air yang mengalir dari hulu sampai ke hilir akan tetapi sebagai “BIYUNG” nya semua makhluk tidak terkecuali manusia. Terkadang gempa, banjir dan longsor melanda seakan beliau sedang “marah”, namun juga tanahnya yang subur, air nya yang jernih mengalir dari hulu ke hilir menghidupi semua maklhuk dengan kasih sayangnya. Selayaknya kasih sayang kedua orang tua yang telah melahirkan anaknya ke dunia.
Maka apa yang bisa diberikan manusia kepada kedua orang tuanya yang telah melahirkan hingga membesarkannya adalah suatu sikap yang sama diberikan kepada langit dan bumi atau alam semesta yang telah memberikan kehidupannya. Bila manusia mampu mewujudkan kasih sayangnya kepada alam semesta secara nyata maka bisa dipastikan tidak akan ada terjadinya eksploitasi alam, polusi udara dan suara hingga pencemaran-pencemaran lain terhadap lingkungan hidup. Maka untaian kasih sayang yang tidak ada hentinya kepada alam semesta adalah Dharma Bhakti atau Pangabhekten kita kepada-Nya. Manusia menjaga alam maka alam akan menjaga manusia.
HUBUNGAN MANUSIA DENGAN MANUSIA LAINNYA
Satu hal lain yang harus di sadari adalah bahwa manusia sebagai makhluk sosial juga berinteraksi dengan manusia lainnya. Berinteraksi dengan orang tua yang melahirkannya, garis leluhur orang tuanya, saudara kandungnya, saudara dari kedua orang tuanya, lingkungannya baik yang dikenal maupun tidak dikenal.
Sebagai makhluk sosial manusia harus sadar bahwa dirinya berada di sebuah lingkungan yang tidak hanya bersifat homogen namun juga heterogen dimana baik berkelompok secara homogen dan heterogen tidak dapat terpisahkan dalam satu waktu.
Di dalam keluarganya adalah satu kelompok yang bersifat homogen namun dalam waktu yang sama ketika satu keluarga berkelompok dengan keluarga lainnya maka akan bersifat heterogen seperti dalam lingkungan RT. Dalam ruang lingkup satu RT kita adalah suatu kelompok yang homogen damun dalam satu RW kita adalah suatu kelompok yang bersifat heterogen karena di setiap RT mungkin memiliki kebijakan yang tidak sama dalam ruang lingkup satu RW. Demikian juga dalam ruang lingkup sebuah dusun, desa/kelurahan, kecamatan, kota/kabupaten, provinsi hingga negara.
Sebagai sesama warga negara bisa menjadi suatu ruang lingkup yang homogen atas kesamaan suatu wilayah negara kesatuan juga sebagai satu bangsa atas kesamaan ideologi yaitu PANCASILA namun juga bisa menjadi masyarakat yang heterogen atas keaneka-ragaman suku, ras, keyakinan dan juga kebangsaan.
Oleh sebab itu di dalam ajaran KAWRUHANA, hubungan manusia dengan manusia lainnya sebagai makhluk sosial dalam melaksanakan dharma bhakti harus bisa ngempan-papan yaitu bisa menempatkan diri dalam segala situasi dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Sebagai bangsa wajib berpedoman pada PANCASILA beserta segenap 45 butir-butirnya berdasarkan Tap MPR No. I/MPR/2003 sebagai tata laku/laksana penghayatan dan pengamalannya, sebagai warga negara wajib menjalankan amanah UUD ’45 dan aturan hukum perundang-undangannya.
Manusia sebagai makhluk sosial dalam kelompoknya yang heterogen tentu tidak akan lepas dari konflik dan berbagai kepentingan dalam berbagai situasi. Oleh karena itu sangat penting untuk membangun mental agar tidak mudah tersulut emosi sesaat yang pada akhirnya hanya merugikan diri sendiri.
Petuah-petuah bijak para leluhur seperti, “Aja rumangsa bisa nanging bisaha rumangsa, Becik ke thithik ala ketara, Mikul duwhur mendhem jero” dan sebagainya menjadi bagian yang tidak terpisahkan di dalam ajaran KAWRUHANA guna membangun konstruksi berpikir agar tetap “netral” dalam menghadapi kecemasan, kegelisahan hingga konflik sosial yang terjadi.
Cara-cara menyikapi sebuah situasi dengan membangun konstruksi berpikir untuk tetap “netral” sehingga dengan cepat bisa mengendalikan situasi atau kemampuan dalam mengolah “rasa” inilah yang dikatakan sebagai Laku Suwung atau Kasunyatan.Laku Suwung atau Kasunyatan bukanlah suatu hal yang mudah untuk dipelajari atau dipahami secara instan akan tetapi membutuhkan banyak pembiasaan dan pengalaman. Oleh sebab itu bila ajaran KAWRUHANA ini diajarkan kepada anak-anak akan sangat mudah baginya untuk membangun sebuah kerangka berpikir yang praktis dan sistematis sehingga tidak hanya membangun kejiwaan atau mental yang kuat akan tetapi juga menumbuhkan kecerdasan dalam berpikir dan bertindak dalam kehidupannya sehari-hari.
