Ajaran

KAWRUHANA adalah salah satu diantara beragamnya ajaran Kejawen yang tumbuh dan berkembang selama ini. Dalam prespektif ajaran KAWRUHANA, Kejawen dipahami sebagai ajaran leluhur Jawa Kuno yang berakar dari Kapitayan. Kapitayan berasal dari bahasa Jawa dengan kata dasar Pitaya yang artinya Yakin/Percaya sehingga makna dari Kapitayan adalah Kepercayaan atau Sistem Kepercayaan yang merujuk pada suatu ajaran, kepercayaan atau tradisi Jawa Kuno yang diwariskan secara turun-temurun dari nenek moyang, khususnya sebelum masuknya pengaruh agama-agama dari luar.

Ajaran Kapitayan menekankan pada penghormatan (pemujaan) kepada leluhur dimana dalam konsep ajaran Kapitayan, Langit dan Bumi dipersonafikasikan sebagai Bapa Akasha dan Ibu Bumi (Bapa lan Biyung) yang merupakan “nenek moyang” semua makhluk. Dalam Bahasa Jawa Kuno atau bahasa Kawi disebutkan “Bapa Sang Hyang Akasa, Ibunta Sang Hyang Prthiwi, patemon Batanta kalawan Ibunta metu raganta jati”  yang maknanya : “I Bapa adalah Sang Hyang Akasa “eter, ruang”, sebaliknya I Meme adalah Ibu Prthiwi “zat padat, bumi”. Pasangyoga “sanggama” mereka berdua itulah yang melahirkan dirimu”.

Ajaran Kapitayan mengalami perkembangan dari masa ke masa yang kemudian dikenal dengan istilah Kejawen. Kejawen berasal dari kata Kejawian dari kata dasar Jawi sebuah singkatan dari  Jawa Kawiwitan guna medeskripsikan sistem kepercayaan masyarakan Jawa Kuno yang berakar dari Kapitayan. Jenis rumpun bahasa yang digunakan pada masanya dinamakan bahasa Jawa Kuno atau Bahasa Kawi (termasuk dalam rumpun bahasa Austronesia) yang kemudian berkembang hingga saat ini menggunakan bahasa Jawa Baru. Dalam ajaran Kejawen tidak terpaku pada penggunaan bahasa Jawa kuno akan tetapi lebih menekankan pada penggunaan bahasa “Ibu”. sehingga sangat mungkin mengalami perkembangan namun tidak menghilangkan akar bahasanya.

Ada dua pokok utama yang diajarkan dalam ajaran Kejawen yaitu Tansah Eling lan Waspada. Sebuah pesan moral yang selalu di tutur-kan atau disampaikan oleh para pendahulu atau leluhur dari generasi ke genarasi adalah “Dadi Wong Jawa kuwi aja nganti ilang “Jawa”ne. Kudu tansah Eling lan Waspada marang sapadha-padha” yang artinya “Jadi orang Jawa itu jangan sampai kehilangan “Jawa”nya, harus senantiasa Sadar dan Peka/Tanggap terhadap segala hal”. Dari prespektif ini maka ajaran KAWRUHANA bisa dikatakan sebagai salah satu ajaran Kejawen dari beragam ajaran yang ada dan diwariskan untuk menjalankan pesan moral para leluhur terdahulu.

Kata Eling dalam ajaran KAWRUHANA dimaknai dengan istilah SADAR, oleh sebab itu ajaran KAWRUHANA lebih menekankan kepada kesadaran diantaranya :

  1. Kesadaran manusia sebagai makhluk-Nya
  2. Kesadaran manusia sebagai bagian dari alam semesta
  3. Kesadaran manusia sebagai makhluk sosial.

Kesadaran manusia terhadap tiga aspek tersebut akan membentuk sebuah kesadaran dalam diri pribadi manusia tersebut agar selalu senantiasa sadar dalam berperilaku atau bertindak, sadar dalam merasakan, sadar dalam berpikir hingga sadar dalam bertutur kata atau berbicara.

Kesadaran demi kesadaran tidak akan mungkin dapat terbentuk tanpa adanya kewaspadaan (Waspada) atau kepekaan, baik peka terhadap keadaan diri sendiri maupun peka terhadap keadaan di sekitarnya. Demikian juga kepekaan atau kewaspadaan dapat terbentuk apabila manusia dapat memahami segala aspek yang ada dalam kehidupannya melalui wulang-wuruk atau pengulangan pengajaran yang telah di dapat dari para pendahulunya. Pengulangan pengajaran ini akan menjadi sebuah pakulinan (Kebiasaan) yang kemudian melekat menjadi sebuah sifat di dalam diri manusia dan nilai-nilai kesadaran dengan sendirinya akan terkandung dalam sifat-sifat tersebut.

KAWRUHANA adalah dimana kata KAWRUH artinya adalah Pengetahuan/Pemahaman dan HANA artinya adalah Ada/Wujud sehingga apa yang dimaksud dengan kahanan adalah suatu keadaan atau perwujudan. Sehingga terjemahan bebas dari KAWRUHANA adalah pengetahuan/pemahaman tentang sesuatu yang ada/wujud dalam suatu keadaan dalam kehidupan. Dalam bahasa Jawa bisa dikatakan juga tentang “Ngawruhi urip, kahuripan lan panguripan” (Mengetahui/memahami/menghayati serta menjalankan hidup, kehidupan dan penghidupan).

MAKNA LAMBANG AJARAN

Lambang Ajaran KAWRUHANA menggunakan Dwi Wija Aksara Jawa yaitu aksara Ha dan aksara Na.membentuk lingkaran dan di luar terdapat sasanti menggunakan aksara Jawa yang bertuliskan : “Hananingsun Hananing Gusti, Hananira Hananing Kawula“.

Ajaran KAWRUHANA disebut juga dengan ajaran JAWA dari pemahaman kata Jaler (Bapa Akasha) lan Wadon (Ibu Bumi). Bapa Akasha disimbolkan dengan aksara “Ha” pada aksara Jawa yang juga dimaknai dengan Kejantanan (Jaler) sedangkan Ibu Bumi disimbolkan dengan aksara “Na” pada aksara Jawa yang dimaknai dengan Kesuburan (Wadon) sehingga Nyawijine Bapa Akasha lan Ibu Bumi, nyawijine aksara “Ha” lan aksara “Na menjadi HANA yang artinya adalah ADA, maka yang disebut dengan “Kahanan” disebut juga dengan sebuah “Keadaan”.

​​

Kata HANA terdiri dari dua aksara yaitu Ha dan aksara Na, dimana pada masing-masing aksaranya terkandung pemahaman tentang laku ELING lan WASPADA, Adapun makna dari kedua aksara tersebut antara lain :

​​

Aksara Ha :

Ha-memayu Hayuning Pribadi

Ha-memayu Hayuning Kaluwarga

Ha-memayu Hayuning Warga

Ha-memayu Hayuning Bawana

​​​

Aksara Na :​

Na-ta Obah (Perilaku/Tindakan)

Na-ta Manah (Perasaan)

Na-ta Landhep (Pikiran)

Na-ta Lathi (Ucapan)

​​

Sasanti yang ada pada lambang ajaran KAWRUHANA yaitu : “Hananingsun Hananing Gusti, Hananira Hananing Kawula” memiliki makna bahwasannya keberadaan Roh/Sukma yang ada di dalam tubuh kita adalah atas keberadaan “Sang Hyang Jawata” atau Sang Maha Pencipta, sedangkan yang dimaksud dengan “Hananira Hananing Kawula” dimana kata “nira” ditujukan kepada semua leluhur kita hingga yang terpuncak yaitu Bapa Akasha dan Ibu Bumi sebagai “nenek moyang” semua makhluk termasuk diri kita (kawula).