{"id":112,"date":"2026-04-09T16:43:23","date_gmt":"2026-04-09T16:43:23","guid":{"rendered":"https:\/\/satyabumiputra.or.id\/?page_id=112"},"modified":"2026-04-09T16:43:23","modified_gmt":"2026-04-09T16:43:23","slug":"ajaran","status":"publish","type":"page","link":"https:\/\/satyabumiputra.or.id\/index.php\/ajaran\/","title":{"rendered":"Ajaran"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>KAWRUHANA<\/strong> adalah salah satu diantara beragamnya ajaran <em>Kejawen<\/em> yang tumbuh dan berkembang selama ini. Dalam prespektif ajaran <strong>KAWRUHANA<\/strong>, <em>Kejawen<\/em>&nbsp;dipahami sebagai ajaran leluhur Jawa Kuno yang berakar dari <em>Kapitayan<\/em>. <em>Kapitayan<\/em> berasal dari bahasa Jawa dengan kata dasar <em>Pitaya<\/em> yang artinya Yakin\/Percaya sehingga makna dari <em>Kapitayan<\/em> adalah Kepercayaan atau Sistem Kepercayaan yang merujuk pada suatu ajaran, kepercayaan atau tradisi Jawa Kuno yang diwariskan secara turun-temurun dari nenek moyang, khususnya sebelum masuknya pengaruh agama-agama dari luar.<\/p>\n\n\n\n<p>\u200b<\/p>\n\n\n\n<p>Ajaran <em>Kapitayan<\/em> menekankan pada penghormatan (pemujaan) kepada leluhur dimana dalam konsep ajaran <em>Kapitayan<\/em>, Langit dan Bumi dipersonafikasikan sebagai <em>Bapa Akasha<\/em> dan <em>Ibu Bumi<\/em> (<em>Bapa lan Biyung<\/em>) yang merupakan \u201cnenek moyang\u201d semua makhluk. Dalam Bahasa Jawa Kuno atau bahasa Kawi disebutkan <em><strong>\u201cBapa Sang Hyang Akasa, Ibunta Sang Hyang Prthiwi, patemon Batanta kalawan Ibunta metu raganta jati\u201d<\/strong><\/em>&nbsp; yang maknanya : <em>&#8220;I Bapa adalah Sang Hyang Akasa \u201ceter, ruang\u201d, sebaliknya I Meme adalah Ibu Prthiwi \u201czat padat, bumi\u201d. Pasangyoga \u201csanggama\u201d mereka berdua itulah yang melahirkan dirimu&#8221;<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>\u200b<\/p>\n\n\n\n<p>Ajaran <em>Kapitayan<\/em> mengalami perkembangan dari masa ke masa yang kemudian dikenal dengan istilah <em>Kejawen<\/em>. <em>Kejawen<\/em> berasal dari kata <em>Kejawian<\/em>&nbsp;dari kata dasar <em>Jawi sebuah singkatan dari&nbsp;<\/em>&nbsp;<em>Jawa Kawiwitan<\/em> guna medeskripsikan sistem kepercayaan masyarakan Jawa Kuno yang berakar dari <em>Kapitayan<\/em>. Jenis rumpun bahasa yang digunakan pada masanya dinamakan bahasa Jawa Kuno atau Bahasa Kawi (termasuk dalam rumpun bahasa Austronesia) yang kemudian berkembang hingga saat ini menggunakan bahasa Jawa Baru. Dalam ajaran Kejawen tidak terpaku pada penggunaan bahasa Jawa kuno akan tetapi lebih menekankan pada penggunaan bahasa &#8220;Ibu&#8221;. sehingga sangat mungkin mengalami perkembangan namun tidak menghilangkan akar bahasanya.<\/p>\n\n\n\n<p>\u200b<\/p>\n\n\n\n<p>Ada dua pokok utama yang diajarkan dalam ajaran <em>Kejawen<\/em> yaitu <em>Tansah <strong>Eling<\/strong> lan <strong>Waspada<\/strong><\/em>. Sebuah pesan moral yang selalu di tutur-kan atau disampaikan oleh para pendahulu atau leluhur dari generasi ke genarasi adalah \u201c<em>Dadi Wong Jawa kuwi aja nganti ilang \u201cJawa\u201dne. Kudu tansah <strong>Eling<\/strong> lan <strong>Waspada<\/strong> marang sapadha-padha<\/em>\u201d yang artinya \u201c<em>Jadi orang Jawa itu jangan sampai kehilangan \u201cJawa\u201dnya, harus senantiasa <strong>Sadar<\/strong> dan <strong>Peka\/Tanggap<\/strong> terhadap segala hal&#8221;<\/em>. Dari prespektif ini maka ajaran <strong>KAWRUHANA<\/strong> bisa dikatakan sebagai salah satu ajaran <em>Kejawen<\/em> dari beragam ajaran yang ada dan diwariskan untuk menjalankan pesan moral para leluhur terdahulu.<\/p>\n\n\n\n<p>\u200b<\/p>\n\n\n\n<p>Kata <em><strong>Eling<\/strong><\/em> dalam ajaran <strong>KAWRUHANA<\/strong> dimaknai dengan istilah <strong>SADAR<\/strong>, oleh sebab itu ajaran <strong>KAWRUHANA <\/strong>lebih menekankan kepada kesadaran diantaranya :<\/p>\n\n\n\n<p>\u200b<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li>Kesadaran manusia sebagai makhluk-Nya<\/li>\n\n\n\n<li>Kesadaran manusia sebagai bagian dari alam semesta<\/li>\n\n\n\n<li>Kesadaran manusia sebagai makhluk sosial.<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p>\u200b<\/p>\n\n\n\n<p>Kesadaran manusia terhadap tiga aspek tersebut akan membentuk sebuah kesadaran dalam diri pribadi manusia tersebut agar selalu senantiasa sadar dalam berperilaku atau bertindak, sadar dalam merasakan, sadar dalam berpikir hingga sadar dalam bertutur kata atau berbicara.<\/p>\n\n\n\n<p>\u200b<\/p>\n\n\n\n<p>Kesadaran demi kesadaran tidak akan mungkin dapat terbentuk tanpa adanya kewaspadaan (Waspada) atau kepekaan, baik peka terhadap keadaan diri sendiri maupun peka terhadap keadaan di sekitarnya. Demikian juga kepekaan atau kewaspadaan dapat terbentuk apabila manusia dapat memahami segala aspek yang ada dalam kehidupannya melalui <em>wulang-wuruk<\/em> atau pengulangan pengajaran yang telah di dapat dari para pendahulunya. Pengulangan pengajaran ini akan menjadi sebuah <em>pakulinan<\/em> (Kebiasaan) yang kemudian melekat menjadi sebuah sifat di dalam diri manusia dan nilai-nilai kesadaran dengan sendirinya akan terkandung dalam sifat-sifat tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p>\u200b<\/p>\n\n\n\n<p><strong>KAWRUHANA<\/strong> adalah dimana kata <strong>KAWRUH<\/strong> artinya adalah Pengetahuan\/Pemahaman dan <strong>HANA<\/strong> artinya adalah Ada\/Wujud sehingga apa yang dimaksud dengan kahanan adalah suatu keadaan atau perwujudan. Sehingga terjemahan bebas dari <strong>KAWRUHANA<\/strong> adalah pengetahuan\/pemahaman tentang sesuatu yang ada\/wujud dalam suatu keadaan dalam kehidupan. Dalam bahasa Jawa bisa dikatakan juga tentang \u201c<em>Ngawruhi urip, kahuripan lan panguripan<\/em>\u201d (Mengetahui\/memahami\/menghayati serta menjalankan hidup, kehidupan dan penghidupan).<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image aligncenter size-large is-resized\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"1024\" src=\"https:\/\/satyabumiputra.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/HANA-HITAM-1024x1024.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-113\" style=\"object-fit:cover;width:400px;height:400px\" srcset=\"https:\/\/satyabumiputra.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/HANA-HITAM-1024x1024.png 1024w, https:\/\/satyabumiputra.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/HANA-HITAM-300x300.png 300w, https:\/\/satyabumiputra.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/HANA-HITAM-150x150.png 150w, https:\/\/satyabumiputra.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/HANA-HITAM-768x768.png 768w, https:\/\/satyabumiputra.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/HANA-HITAM-1536x1536.png 1536w, https:\/\/satyabumiputra.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/HANA-HITAM.png 1887w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>MAKNA LAMBANG AJARAN<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Lambang Ajaran <strong>KAWRUHANA<\/strong>&nbsp;menggunakan <em>Dwi Wija<\/em> Aksara Jawa yaitu aksara <strong>Ha<\/strong> dan aksara <strong>Na<\/strong>.membentuk lingkaran dan di luar terdapat <em>sasanti<\/em>&nbsp;menggunakan aksara Jawa yang bertuliskan : &#8220;<em>Hananingsun Hananing Gusti, Hananira Hananing Kawula<\/em>&#8220;.<\/p>\n\n\n\n<p>Ajaran <strong>KAWRUHANA<\/strong> disebut juga dengan ajaran <strong>JAWA<\/strong> dari pemahaman kata <strong>Ja<\/strong>&#8211;<em>ler<\/em> (<strong>Bapa Akasha<\/strong>) lan <strong>Wa<\/strong>&#8211;<em>don<\/em> (<strong>Ibu Bumi<\/strong>). <strong>Bapa Akasha<\/strong> disimbolkan dengan aksara \u201c<strong>Ha<\/strong>\u201d pada aksara Jawa yang juga dimaknai dengan Kejantanan (<strong>Ja<\/strong>&#8211;<em>ler<\/em>) sedangkan <strong>Ibu Bumi<\/strong> disimbolkan dengan aksara \u201c<strong>Na<\/strong>\u201d pada aksara Jawa yang dimaknai dengan Kesuburan (<strong>Wa<\/strong>&#8211;<em>don<\/em>) sehingga <em>Nyawijine Bapa Akasha lan Ibu Bumi<\/em>, <em>nyawijine aksara \u201c<strong>Ha<\/strong>\u201d lan aksara \u201c<strong>Na<\/strong>\u201d<\/em> menjadi <strong>HANA<\/strong> yang artinya adalah <strong>ADA<\/strong>, maka yang disebut dengan &#8220;<em>Kahanan&#8221;<\/em> disebut juga dengan sebuah &#8220;K<em>eadaan&#8221;<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>\u200b\u200b<\/p>\n\n\n\n<p>Kata <strong>HANA<\/strong> terdiri dari dua aksara yaitu <strong>Ha<\/strong> dan aksara <strong>Na,<\/strong> dimana pada masing-masing aksaranya terkandung pemahaman tentang laku <strong>ELING<\/strong> lan <strong>WASPADA<\/strong>, Adapun makna dari kedua aksara tersebut antara lain :<\/p>\n\n\n\n<p>\u200b\u200b<\/p>\n\n\n\n<p>Aksara <strong>Ha<\/strong> :<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Ha<\/strong>-memayu Hayuning Pribadi<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Ha<\/strong>-memayu Hayuning Kaluwarga<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Ha<\/strong>-memayu Hayuning Warga<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Ha<\/strong>-memayu Hayuning Bawana<\/p>\n\n\n\n<p>\u200b\u200b\u200b<\/p>\n\n\n\n<p>Aksara <strong>Na<\/strong> :\u200b<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Na<\/strong>-ta Obah (Perilaku\/Tindakan)<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Na<\/strong>-ta Manah (Perasaan)<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Na<\/strong>-ta Landhep (Pikiran)<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Na<\/strong>-ta Lathi (Ucapan)<\/p>\n\n\n\n<p>\u200b\u200b<\/p>\n\n\n\n<p><em>Sasanti<\/em>&nbsp;yang ada pada lambang ajaran&nbsp;<strong>KAWRUHANA<\/strong> yaitu :&nbsp;&#8220;<em>Hananingsun Hananing Gusti, Hananira Hananing Kawula<\/em>&#8221; memiliki makna&nbsp;bahwasannya keberadaan Roh\/Sukma yang ada di dalam tubuh kita adalah atas keberadaan &#8220;<strong>Sang Hyang Jawata<\/strong>&#8221; atau Sang Maha Pencipta, sedangkan yang dimaksud dengan &#8220;<em>Hananira Hananing Kawula<\/em>&#8221; dimana kata &#8220;<em>nira<\/em>&#8221; ditujukan kepada semua leluhur kita hingga yang terpuncak yaitu <strong>Bapa Akasha<\/strong> dan <strong>Ibu Bumi<\/strong> sebagai &#8220;nenek moyang&#8221; semua makhluk termasuk diri kita (<em>kawula<\/em>).<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>KAWRUHANA adalah salah satu diantara beragamnya ajaran Kejawen yang tumbuh dan berkembang selama ini. Dalam prespektif ajaran KAWRUHANA, Kejawen&nbsp;dipahami sebagai ajaran leluhur Jawa Kuno yang berakar dari Kapitayan. Kapitayan berasal dari bahasa Jawa dengan kata dasar Pitaya yang artinya Yakin\/Percaya sehingga makna dari Kapitayan adalah Kepercayaan atau Sistem Kepercayaan yang merujuk pada suatu ajaran, kepercayaan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"parent":0,"menu_order":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","template":"","meta":{"footnotes":""},"class_list":["post-112","page","type-page","status-publish","hentry"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/satyabumiputra.or.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/112","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/satyabumiputra.or.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/pages"}],"about":[{"href":"https:\/\/satyabumiputra.or.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/page"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/satyabumiputra.or.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/satyabumiputra.or.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=112"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/satyabumiputra.or.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/112\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":114,"href":"https:\/\/satyabumiputra.or.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/112\/revisions\/114"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/satyabumiputra.or.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=112"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}