{"id":112,"date":"2026-04-09T16:43:23","date_gmt":"2026-04-09T16:43:23","guid":{"rendered":"https:\/\/satyabumiputra.or.id\/?page_id=112"},"modified":"2026-04-27T18:24:38","modified_gmt":"2026-04-27T18:24:38","slug":"ajaran","status":"publish","type":"page","link":"https:\/\/satyabumiputra.or.id\/index.php\/ajaran\/","title":{"rendered":"Ajaran"},"content":{"rendered":"\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li class=\"has-pure-black-color has-text-color has-link-color wp-elements-dfef5d3c89821c0c18e0a20f0dc34fcb\"><strong><a href=\"#riwayat-hidup\">Riwayat Hidup Penerima Ajaran<\/a><\/strong><\/li>\n\n\n\n<li class=\"has-link-color wp-elements-3ecbc5514c9e04be22d3f0a681cec598\"><strong><a href=\"#sejarah-penerimaan-ajaran\">Sejarah Penerimaan Ajaran<\/a><\/strong><\/li>\n\n\n\n<li class=\"has-link-color wp-elements-9153c54f46962618eefed44c40d5679d\"><strong><a href=\"#pengembangan-ajaran\">Pengembangan Ajaran<\/a><\/strong><\/li>\n\n\n\n<li class=\"has-pure-black-color has-text-color has-link-color wp-elements-928a5cac22a951e1e5b172feebeb9b65\"><strong><a href=\"#kejawen\">Kejawen<\/a><\/strong><\/li>\n\n\n\n<li class=\"has-link-color wp-elements-53107a4dce8eb60a15a259b2d8debc1f\"><strong><a href=\"#tentang-maha-pencipta\">Tentang Maha Pencipta<\/a><\/strong><\/li>\n\n\n\n<li class=\"has-link-color wp-elements-ec42925443d9002114ae9363b59cb6ca\"><strong><a href=\"#tentang-alam-semesta\">Tentang Alam Semesta<\/a><\/strong><\/li>\n\n\n\n<li class=\"has-link-color wp-elements-35b30e589c6397b4e7151419f789b792\"><strong><a href=\"#tentang-manusia\">Tentang Manusia<\/a><\/strong><\/li>\n\n\n\n<li class=\"has-link-color wp-elements-517d84ce470108235a9499ac049cb7f5\"><strong><a href=\"#hubungan-manusia-dengan-maha-pencipta\">Hubungan Manusia dengan Maha Pencipta<\/a><\/strong><\/li>\n\n\n\n<li class=\"has-link-color wp-elements-2669128f54b651d42f76aa978524bee7\"><strong><a href=\"#hubungan-manusia-dengan-alam-semesta\">Hubungan Manusia dengan Alam Semesta<\/a><\/strong><\/li>\n\n\n\n<li class=\"has-link-color wp-elements-b52aef82dd3cadef014ff48a8e983c31\"><strong><a href=\"#hubungan-manusia-dengan-manusia-lainnya\">Hubungan Manusia dengan Manusia Lainnya<\/a><\/strong><\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading has-text-align-center has-pure-black-color has-luminous-vivid-amber-background-color has-text-color has-background has-link-color wp-elements-d1ce60f118773227b5bf2ca6255ec818\" id=\"riwayat-hidup\" style=\"padding-top:0;padding-right:0;padding-bottom:0;padding-left:0\">RIWAYAT HIDUP PENERIMA AJARAN<\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tokoh yang pertama kali menggali, mendalami dan merumuskan ajaran <strong>KAWRUHANA<\/strong> adalah Rama Pamadya Aditya R. Kertawidjaja. Beliau lahir di Surabaya, Jawa Timur pada tanggal 9 September 1980 dan merupakan putra pertama dan&nbsp; dua bersaudara.dari pasangan Z.M. Rachman dan R.Ngt. Ermy Friyantini.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Walaupun lahir di Surabaya, namun masa kecil beliau pernah tinggal di Banyuwangi, Jawa Timur bersama dengan kakeknya ( Garis Keturunan dari Ibu) yaitu Raden Jachman sementara kedua orang tua beliau masih menetap di Surabaya, Jawa Timur. Raden Jachman merupakan penganut sistem kepercayaan Jawa atau <em>Kejawen<\/em> secara turun temurun, sehingga karena kedekatan antara cucu dan kakek inilah Rama Pamadya Aditya R. Kertawidjaja banyak mengetahui ajaran <em>Kejawen<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada saat usia 9 tahun, beliau pindah ke Pasuruan, Jawa Timur mengikuti kepindahan orang tua dikarenakan pekerjaan hingga beliau beranjak remaja. Walau berada di Pasuruan, Jawa Timur, kedekatan antara cucu dan kakek masih terjalin dengan baik. Sebab, sang kakek yaitu Raden Jachman sangat <em>intens<\/em> untuk menjenguk cucunya hingga akhir hayatnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selain dari Raden Jachman, tradisi <em>Kejawen <\/em>juga beliau dapatkan dari ayah beliau yang memiliki tradisi merawat pusaka keris secara turun-temurun. Saat ayah beliau memberinya kepercayaan untuk melanjutkan tradisi merawat pusaka keris milik keluarga dari garis keturunan ayah, maka sejak saat itulah beliau mulai lebih dalam memahami makna keris dalam sudut pandang kepercayaan <em>Kejawen<\/em> sekaligus melanjutkan tradisi keluarga dalam merawat pusaka.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada tahun 1999, Rama Pamadya Aditya R. Kertawidjaja memutuskan untuik merantau ke Bali guna melanjutkan perguruan tinggi. Selama 10 tahun menetap Bali, beliau mendapati banyaknya persamaan antara apa yang pernah diajarkan kakek beliau perihal <em>Kejawen <\/em>dengan kultur kepercayaan masyarakat Bali terutama berkaitan dengan pemahaman terhadap kesakralan aksara Bali yang tidak jauh berbeda dengan kesakralan aksara Jawa.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada tahun 2010, tepat lima tahun setelah terjadinya tragedi bom Bali II, beliau memutuskan untuk kembali ke Pasuruan, Jawa Timur. Sejak kepulangan beliau inilah menjadi satu titik balik terhadap pendalaman ajaran-ajaran Jawa atau <em>Kejawen<\/em> baik dari meneruskan tradisi yang pernah dijalankan oleh kedua kakeknya maupun pemahaman-pemahaman yang beliau dapat semasa beliau berada di Bali. Hingga pada tahun 2012 beliau mulai merangkum dan merumuskan sebuah ajaran Jawa yang dinamakan ajaran <strong>KAWRUHANA<\/strong> yang digunakan sebagai laku pribadinya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada tahun 2018, beliau memutuskan untuk membuat suatu wadah atau paguyuban dan diberi nama <strong>Satya Bumiputra<\/strong> guna mengajarkan ajaran <strong>KAWRUHANA<\/strong> bagi siapa saja yang ingin mengetahuinya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada tahun 2021, beliau bersama dengan para pinisepuh dari beberapa paguyuban yang ada di Kota\/Kab. Pasuruan kemudian membentuk <strong>DMD MLKI (Majelis Luhur Kepercayaan Terhadap Tuhan yang Maha Esa \u2013 Indonesia) Kota Pasuruan<\/strong> <strong>\u2013 Jawa Timur<\/strong> dimana tujuannya untuk membina kerukunan baik antar sesama paguyuban penghayat kepercayaan maupun dengan pemerintah daerah juga agar regulasi terhadap perubahan kolom agama menjadi kolom kepercayaan pada adminduk dapat terakomodir dengan baik. Pada tahun 2024 Paguyuban <strong>Satya Bumiputra<\/strong> yang didirikan oleh beliau melakukan pengajuan Tanda Inventarisasi (TI) pada Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan YME dan Masyarakat Adat di bawah naungan Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi dengan Nomor Tanda Inventarisasi (TI) <strong>NO. 09\/TI-KMA\/05\/2024<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading has-text-align-center has-pure-black-color has-luminous-vivid-amber-background-color has-text-color has-background has-link-color wp-elements-8b8232bc3ea84b558c2facdf23517c40\" id=\"sejarah-penerimaan-ajaran\" style=\"padding-top:0;padding-right:0;padding-bottom:0;padding-left:0\">SEJARAH PENERIMAAN AJARAN<\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>KAWRUHANA<\/strong> adalah sebuah ajaran Jawa atau <em>Kejawen<\/em> yang dirumuskan oleh Rama Pamadya Aditya R. Kertawidjaja dari beberapa ajaran yang pernah diwariskan oleh kedua kakek beliau yaitu Raden Jachman (dari Ibu) dan Ida Bagoes Pratikta Kertawidjaja (dari Ayah).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Awal mendapatkan ajaran dari Raden Jachman di karenakan masa kecil beliau pernah tinggal di Banyuwangi, Jawa Timur bersama kakeknya ( Garis Keturunan dari Ibu) yaitu Raden Jachman, sementara kedua orang tua beliau masih menetap di Surabaya, Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Raden Jachman merupakan penganut sistem kepercayaan Jawa atau <em>Kejawen<\/em> secara turun temurun sehingga karena kedekatan antara cucu dan kakek inilah Rama Pamadya Aditya R. Kertawidjaja banyak mendapat pendidikan ajaran <em>Kejawen<\/em> baik yang berkaitan dengan kesakralan Aksara Jawa (<em>Parama Sabda), <\/em>kebiasaan menggunakan <em>sesaji<\/em> dan <em>Tapa Bhrata<\/em> di sebuah ruangan khusus yang diberi nama <em>Sepen\/Sentong <\/em>hingga adat istiadat dan tradisi Jawa lainnya menurut sudut pandang sistem kepercayaan Jawa atau <em>Kejawen <\/em>yang dijalankan oleh Raden Jachman yang juga seorang <em>Pranata Adicara<\/em> dalam prosesi upacara adat Jawa.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Raden Jachman sendiri sebenarnya berasal dari Bagelen, Purworejo, Jawa Tengah yang merupakan salah satu putra dari pasangan Raden Prawira Rasiman Soedira dan Ngatirah yang berasal dari Bagelen, Purworejo, Jawa Tengah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selain dari Raden Jachman, pemahaman ajaran <em>Kejawen<\/em> lainnya juga beliau dapat dari ayahnya saat beliau diberi kepercayaan oleh sang ayah untuk melanjutkan tradisi merawat pusaka keris milik Ida Bagoes Pratikta Kertawidjaja (kakek), milik Ida Bagoes Hardja Hamidjaja (buyut) hingga milik Ida Bagoes Kertawidjaja atau Eyang Kerta (Eyang Canggah) dari garis keturunan ayah, maka sejak saat itulah beliau mulai lebih dalam memahami makna keris dalam sudut pandang kepercayaan <em>Kejawen<\/em> sekaligus melanjutkan tradisi keluarga dalam merawat pusaka.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Berdasarkan cerita yang disampaikan secara turun-menurun, eyang canggah beliau dari garis keturunan ayah memang berasal dari Gedeg, Mojokerto, Jawa Timur. Sementara buyut beliau yaitu Ida Bagoes Hardjahamidjaja saat dewasa berpindah tugas dari Mojokerto, Jawa Timur ke Kab. Pasuruan, Jawa Timur tepatnya di desa Bayeman, Kec. Gondang Wetan, Kab. Pasuruan hingga lahirlah kakek beliau yaitu Ida Bagoes Pratikta Kertawidjaja..<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tidak hanya tradisi merawat pusaka keris, tradisi-tradisi lain dari garis keturunan Eyang Kerta seperti melakukan <em>Hatur Puja<\/em>, <em>Tapa Bhrata<\/em> dan <em>Tapa kum-Kum<\/em> juga menjadi bagian dari ritual yang sering dilakukan oleh Rama Pamadya Aditya R. Kertawidjaja dalam melanjutkan tradisi yang pernah dijalankan oleh leluhur sebelumnya dari garis keturunan ayah beliau.Selain meneruskan tradisi yang dilakukan oleh kedua kakeknya, pemahaman tentang ajaran <em>Kejawen<\/em> lainnya juga beliau dapatkan ketika saat remaja beliau pernah merantau ke Bali.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tepatnya pada tahun 1999 Rama Pamadya Aditya R. Kertawidjaja melanjutkan perguruan tinggi, menetap,bekerja hingga berkeluarga di Bali. Selama 10 tahun menetap Bali, beliau merasakan ada banyak persamaan antara apa yang diajarkan kakek beliau perihal <em>Kejawen <\/em>dengan kultur kepercayaan masyarakat Bali terutama berkaitan dengan pemahaman terhadap kesakralan aksara Bali yang tidak jauh berbeda dengan kesakralan aksara Jawa. Lima tahun setelah terjadinya tragedi bom Bali II, tepatnya di tahun 2010 beliau memutuskan untuk kembali ke Pasuruan, Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada tahun 2012, saat beliau melakukan <em>Hatur Puja<\/em> di Candi Jawi yang dilanjutkan dengan ritual <em>Tapa Kum-Kum<\/em> di Patirthaan Jalatunda, menjadi titik balik dimana dalam perenungannya, beliau tergugah hatinya dan perlahan-lahan mulai merangkai dan merumuskan kembali semua ajaran yang pernah beliau dapatkan, baik dari kedua kakeknya maupun dengan segala pengetahuan yang telah dimilikinya. Sebuah catatan kecil yang pernah beliau dapat dari sebuah buku catatan kakeknya yaitu : <strong><em>\u201cBapa Sang Hyang Akasa, Ibunta Sang Hyang Prthiwi, patemon Bapanta kalawan Ibunta metu raganta jati\u201d<\/em><\/strong>\u00a0 yang maknanya \u201c<em>I Bapa adalah Sang Hyang Akasa \u201ceter, ruang\u201d, sebaliknya I Meme adalah Ibu Prthiwi \u201czat padat, bumi\u201d. Pasangyoga \u201csanggama\u201d mereka berdua itulah yang melahirkan dirimu\u201d <\/em>dikaitkan dengan <em>Manjinge Curiga kalawan Warangka<\/em> sebagai bentuk <em>Nyawijine Bapa Akasha lan Ibu Bumi<\/em> juga pemahamannya terkait <em>Rwa Bhinneda<\/em> menjadi bagian dari sebuah proses yang panjang dan kompleks dalam membuat rangkuman serta rumusan suatu ajaran sehingga pada akhirnya dinamakanlah ajaran tersebut dengan nama ajaran <strong>KAWRUHANA<\/strong>, yang berasal dari kata <strong>KAWRUH<\/strong> berarti Pengetahuan dan <strong>HANA<\/strong>, berasal dari Aksara <strong>Ha<\/strong> dan <strong>Na<\/strong> yang berarti atau Ada\/Wujud yang juga dimaknai dengan <em>\u201cHananingsun, Hananing Gusti, Hananira, Hananing Kawula\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading has-text-align-center has-pure-black-color has-luminous-vivid-amber-background-color has-text-color has-background has-link-color wp-elements-38a1ad74c673986f2ce08427ec77400c\" id=\"pengembangan-ajaran\" style=\"padding-top:0;padding-right:0;padding-bottom:0;padding-left:0\">PENGEMBANGAN AJARAN<\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ajaran <strong>KAWRUHANA<\/strong> ini awalnya tidak pernah diajarkan kembali kepada siapapun akan tetapi lebih digunakan sebagai laku pribadi dan menjadi keyakinannya. Akan tetapi di bulan September tahun 2018, saat beliau melakukan <em>Hatur Puja<\/em> di Candi Jawi kemudian dilanjutkan dengan <em>Tapa Bhrata<\/em> di Patirthaan Jalatunda pada malam <em>Purnama Sidhi<\/em> seperti biasanya, tiba-tiba beliau kembali tergerak hatinya untuk menyampaikan ajaran <strong>KAWRUHANA<\/strong> kepada siapapun yang ingin mengetahuinya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Beliau merasa sebagai putra Ibu Pertiwi memiliki tanggung jawab untuk meneruskan dan melestrarikan ajaran <strong>KAWRUHANA<\/strong> yang merupakan ajaran leluhur dari generasi ke generasi agar <em>putra wayahipun Bapa Akasha lan Ibu Bhumi<\/em> tidak melupakan siapa sejatinya <em>Bapa \u2013 Biyung Ingsun kalawan Nira.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sejak saat itu beliau mulai terbuka untuk menyampaikan ajaran <strong>KAWRUHANA<\/strong> kepada siapa saja yang ingin mengetahuinya. Bersama beberapa kadang kemudian membuat aktifitas berkumpul setiap malam Rabu dan dinamakan <em>Reboan <\/em>sehingga kemudian pada tanggal 10 November 2018 mendirikan sebuah paguyuban yang bernama <strong>Satya Bumiputra<\/strong> guna mengakomodir siapa saja yang ingin mengetahui dan memperdalam ajaran <strong>KAWRUHANA<\/strong> juga sebagai Penghayat Kepercayaan. Untuk mempermudah dalam mengenalkan ajaran <strong>KAWRUHANA<\/strong>, beliau memanfaatkan media sosial seperti Youtube, Instagram maupun Tik-Tok sebagai sarana pengenalan ajaran sehingga kadang <strong>Satya Bumiputra<\/strong> tidak hanya berasal dari Pasuruan, Jawa Timur akan tetapi juga berasal dari berbagai wilayah di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading has-text-align-center has-pure-black-color has-luminous-vivid-amber-background-color has-text-color has-background has-link-color wp-elements-02e513d8260f5791a95a4d90847350e7\" id=\"kejawen\" style=\"padding-top:0;padding-right:0;padding-bottom:0;padding-left:0\"><strong>KEJ<\/strong><strong>AWEN<\/strong><\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>KAWRUHANA<\/strong> adalah salah satu diantara beragamnya ajaran <em>Kejawen<\/em> yang tumbuh dan berkembang selama ini. Dalam prespektif ajaran <strong>KAWRUHANA<\/strong>, <em>Kejawen<\/em>&nbsp;dipahami sebagai ajaran leluhur Jawa Kuno yang berakar dari <em>Kapitayan<\/em>. <em>Kapitayan<\/em> berasal dari bahasa Jawa dengan kata dasar <em>Pitaya<\/em> yang artinya Yakin\/Percaya sehingga makna dari <em>Kapitayan<\/em> adalah Kepercayaan atau Sistem Kepercayaan yang merujuk pada suatu ajaran, kepercayaan atau tradisi Jawa Kuno yang diwariskan secara turun-temurun dari nenek moyang, khususnya sebelum masuknya pengaruh agama-agama dari luar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ajaran <em>Kapitayan<\/em> menekankan pada penghormatan (pemujaan) kepada leluhur dimana dalam konsep ajaran <em>Kapitayan<\/em>, Langit dan Bumi dipersonafikasikan sebagai <em>Bapa Akasha<\/em> dan <em>Ibu Bumi<\/em> (<em>Bapa lan Biyung<\/em>) yang merupakan \u201cnenek moyang\u201d semua makhluk. Dalam Bahasa Jawa Kuno atau bahasa Kawi disebutkan <em><strong>\u201cBapa Sang Hyang Akasa, Ibunta Sang Hyang Prthiwi, patemon Bapanta kalawan Ibunta metu raganta jati\u201d<\/strong><\/em>\u00a0 yang maknanya : <em>&#8220;I Bapa adalah Sang Hyang Akasa \u201ceter, ruang\u201d, sebaliknya I Meme adalah Ibu Prthiwi \u201czat padat, bumi\u201d. Pasangyoga \u201csanggama\u201d mereka berdua itulah yang melahirkan dirimu&#8221;<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ajaran <em>Kapitayan<\/em> mengalami perkembangan dari masa ke masa yang kemudian dikenal dengan istilah <em>Kejawen<\/em>. <em>Kejawen<\/em> berasal dari kata <em>Kejawian<\/em>&nbsp;dari kata dasar <em>Jawi sebuah singkatan dari&nbsp;<\/em>&nbsp;<em>Jawa Kawiwitan<\/em> guna medeskripsikan sistem kepercayaan masyarakan Jawa Kuno yang berakar dari <em>Kapitayan<\/em>. Jenis rumpun bahasa yang digunakan pada masanya dinamakan bahasa Jawa Kuno atau Bahasa Kawi (termasuk dalam rumpun bahasa Austronesia) yang kemudian berkembang hingga saat ini menggunakan bahasa Jawa Baru. Dalam ajaran Kejawen tidak terpaku pada penggunaan bahasa Jawa kuno akan tetapi lebih menekankan pada penggunaan bahasa &#8220;Ibu&#8221;. sehingga sangat mungkin mengalami perkembangan namun tidak menghilangkan akar bahasanya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ada dua pokok utama yang diajarkan dalam ajaran <em>Kejawen<\/em> yaitu <em>Tansah <strong>Eling<\/strong> lan <strong>Waspada<\/strong><\/em>. Sebuah pesan moral yang selalu di tutur-kan atau disampaikan oleh para pendahulu atau leluhur dari generasi ke genarasi adalah \u201c<em>Dadi Wong Jawa kuwi aja nganti ilang \u201cJawa\u201dne. Kudu tansah <strong>Eling<\/strong> lan <strong>Waspada<\/strong> marang sapadha-padha<\/em>\u201d yang artinya \u201c<em>Jadi orang Jawa itu jangan sampai kehilangan \u201cJawa\u201dnya, harus senantiasa <strong>Sadar<\/strong> dan <strong>Peka\/Tanggap<\/strong> terhadap segala hal&#8221;<\/em>. Dari prespektif ini maka ajaran <strong>KAWRUHANA<\/strong> bisa dikatakan sebagai salah satu ajaran <em>Kejawen<\/em> dari beragam ajaran yang ada dan diwariskan untuk menjalankan pesan moral para leluhur terdahulu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kata <em><strong>Eling<\/strong><\/em> dalam ajaran <strong>KAWRUHANA<\/strong> dimaknai dengan istilah <strong>SADAR<\/strong>, oleh sebab itu ajaran <strong>KAWRUHANA <\/strong>lebih menekankan kepada kesadaran diantaranya :<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li>Kesadaran manusia sebagai makhluk-Nya<\/li>\n\n\n\n<li>Kesadaran manusia sebagai bagian dari alam semesta<\/li>\n\n\n\n<li>Kesadaran manusia sebagai makhluk sosial.<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kesadaran manusia terhadap tiga aspek tersebut akan membentuk sebuah kesadaran dalam diri pribadi manusia tersebut agar selalu senantiasa sadar dalam berperilaku atau bertindak, sadar dalam merasakan, sadar dalam berpikir hingga sadar dalam bertutur kata atau berbicara.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kesadaran demi kesadaran tidak akan mungkin dapat terbentuk tanpa adanya kewaspadaan (Waspada) atau kepekaan, baik peka terhadap keadaan diri sendiri maupun peka terhadap keadaan di sekitarnya. Demikian juga kepekaan atau kewaspadaan dapat terbentuk apabila manusia dapat memahami segala aspek yang ada dalam kehidupannya melalui <em>wulang-wuruk<\/em> atau pengulangan pengajaran yang telah di dapat dari para pendahulunya. Pengulangan pengajaran ini akan menjadi sebuah <em>pakulinan<\/em> (Kebiasaan) yang kemudian melekat menjadi sebuah sifat di dalam diri manusia dan nilai-nilai kesadaran dengan sendirinya akan terkandung dalam sifat-sifat tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>KAWRUHANA<\/strong> adalah dimana kata <strong>KAWRUH<\/strong> artinya adalah Pengetahuan\/Pemahaman dan <strong>HANA<\/strong> artinya adalah Ada\/Wujud sehingga apa yang dimaksud dengan kahanan adalah suatu keadaan atau perwujudan. Sehingga terjemahan bebas dari <strong>KAWRUHANA<\/strong> adalah pengetahuan\/pemahaman tentang sesuatu yang ada\/wujud dalam suatu keadaan dalam kehidupan. Dalam bahasa Jawa bisa dikatakan juga tentang \u201c<em>Ngawruhi urip, kahuripan lan panguripan<\/em>\u201d (Mengetahui\/memahami\/menghayati serta menjalankan hidup, kehidupan dan penghidupan).<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image aligncenter size-large is-resized\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"1024\" src=\"https:\/\/satyabumiputra.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/HANA-HITAM-1024x1024.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-113\" style=\"object-fit:cover;width:400px;height:400px\" srcset=\"https:\/\/satyabumiputra.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/HANA-HITAM-1024x1024.png 1024w, https:\/\/satyabumiputra.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/HANA-HITAM-300x300.png 300w, https:\/\/satyabumiputra.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/HANA-HITAM-150x150.png 150w, https:\/\/satyabumiputra.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/HANA-HITAM-768x768.png 768w, https:\/\/satyabumiputra.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/HANA-HITAM-1536x1536.png 1536w, https:\/\/satyabumiputra.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/HANA-HITAM.png 1887w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>MAKNA LAMBANG AJARAN<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lambang Ajaran <strong>KAWRUHANA<\/strong>&nbsp;menggunakan <em>Dwi Wija<\/em> Aksara Jawa yaitu aksara <strong>Ha<\/strong> dan aksara <strong>Na<\/strong>.membentuk lingkaran dan di luar terdapat <em>sasanti<\/em>&nbsp;menggunakan aksara Jawa yang bertuliskan : &#8220;<em>Hananingsun Hananing Gusti, Hananira Hananing Kawula<\/em>&#8220;.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ajaran <strong>KAWRUHANA<\/strong> disebut juga dengan ajaran <strong>JAWA<\/strong> dari pemahaman kata <strong>Ja<\/strong>&#8211;<em>ler<\/em> (<strong>Bapa Akasha<\/strong>) lan <strong>Wa<\/strong>&#8211;<em>don<\/em> (<strong>Ibu Bumi<\/strong>). <strong>Bapa Akasha<\/strong> disimbolkan dengan aksara \u201c<strong>Ha<\/strong>\u201d pada aksara Jawa yang juga dimaknai dengan Kejantanan (<strong>Ja<\/strong>&#8211;<em>ler<\/em>) sedangkan <strong>Ibu Bumi<\/strong> disimbolkan dengan aksara \u201c<strong>Na<\/strong>\u201d pada aksara Jawa yang dimaknai dengan Kesuburan (<strong>Wa<\/strong>&#8211;<em>don<\/em>) sehingga <em>Nyawijine Bapa Akasha lan Ibu Bumi<\/em>, <em>nyawijine aksara \u201c<strong>Ha<\/strong>\u201d lan aksara \u201c<strong>Na<\/strong>\u201d<\/em> menjadi <strong>HANA<\/strong> yang artinya adalah <strong>ADA<\/strong>, maka yang disebut dengan &#8220;<em>Kahanan&#8221;<\/em> disebut juga dengan sebuah &#8220;K<em>eadaan&#8221;<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kata <strong>HANA<\/strong> terdiri dari dua aksara yaitu <strong>Ha<\/strong> dan aksara <strong>Na,<\/strong> dimana pada masing-masing aksaranya terkandung pemahaman tentang laku <strong>ELING<\/strong> lan <strong>WASPADA<\/strong>, Adapun makna dari kedua aksara tersebut antara lain :<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aksara <strong>Ha<\/strong> :<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Ha<\/strong>-memayu Hayuning Pribadi<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Ha<\/strong>-memayu Hayuning Kaluwarga<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Ha<\/strong>-memayu Hayuning Warga<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Ha<\/strong>-memayu Hayuning Bawana<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aksara <strong>Na<\/strong> :\u200b<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Na<\/strong>-ta Obah (Perilaku\/Tindakan)<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Na<\/strong>-ta Manah (Perasaan)<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Na<\/strong>-ta Landhep (Pikiran)<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Na<\/strong>-ta Lathi (Ucapan)<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Sasanti<\/em>&nbsp;yang ada pada lambang ajaran&nbsp;<strong>KAWRUHANA<\/strong> yaitu :&nbsp;&#8220;<em>Hananingsun Hananing Gusti, Hananira Hananing Kawula<\/em>&#8221; memiliki makna&nbsp;bahwasannya keberadaan Roh\/Sukma yang ada di dalam tubuh kita adalah atas keberadaan &#8220;<strong>Sang Hyang Jawata<\/strong>&#8221; atau Sang Maha Pencipta, sedangkan yang dimaksud dengan &#8220;<em>Hananira Hananing Kawula<\/em>&#8221; dimana kata &#8220;<em>nira<\/em>&#8221; ditujukan kepada semua leluhur kita hingga yang terpuncak yaitu <strong>Bapa Akasha<\/strong> dan <strong>Ibu Bumi<\/strong> sebagai &#8220;nenek moyang&#8221; semua makhluk termasuk diri kita (<em>kawula<\/em>).<\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading has-text-align-center has-pure-black-color has-luminous-vivid-amber-background-color has-text-color has-background has-link-color wp-elements-cf01b7fb123db7fd8ddbab8844f3e1f6\" id=\"tentang-maha-pencipta\" style=\"padding-top:0;padding-right:0;padding-bottom:0;padding-left:0\"><strong>TENTANG MAHA PENCIPTA<\/strong><\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketuhanan menurut ajaran <strong>KAWRUHANA<\/strong> adalah <em>Hananing Bapa Akasha kalawan Ibu Bhumi <strong>tanda yekti<\/strong> hananing Hyang Jawata ingkang \u201ctan kena kinira tan kena kinaya ngapa\u201d <\/em>yang dapat dimaknai bahwa adanya Langit dan Bumi yang kemudian dipersonafikasikan sebagai <em>Bapa Akasha<\/em> dan <em>Ibu Bumi<\/em> atau <em>Bapa<\/em> kalawan <em>Biyung <\/em>adalah &nbsp;<strong><em>bukti<\/em><\/strong> adanya<em> Hyang Jawata<\/em> (Tuhan) atau Sang Maha Pencipta. Dengan kata lain untuk meyakini adanya Sang Maha Pencipta, menghormati, mengabdi dan memohon restu kepada Sang Maha Pencipta adalah dengan meyakini apa yang telah diciptakan-Nya, menghormati, mengabdi dan memohon restu kepada apa yang diciptakan-Nya yaitu Langit dan Bumi. Langit dan Bumi sebagai awal penciptaan diyakini sebagai \u201cnenek moyang\u201d semua makhluk dan dipersonafikasikan sebagai <em>Bapa &amp; Biyung<\/em> (Bapa Akasha &amp; Ibu Bumi) juga sebagai <em>Pangeran kang Katon<\/em> (Representasi Tuhan di dunia). Sehingga cara menghormati, mengabdi dan memohon restu-Nya adalah dengan menghormati, mengabdi dan memohon restu kepada Bapa &amp; Biyung (Langit &amp; Bumi atau Alam Semesta).<\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading has-text-align-center has-pure-black-color has-luminous-vivid-amber-background-color has-text-color has-background has-link-color wp-elements-cdd418029d84d513c4ab571ce195aed9\" id=\"tentang-alam-semesta\" style=\"padding-top:0;padding-right:0;padding-bottom:0;padding-left:0\"><strong>TENTANG <\/strong>ALAM SEMESTA<\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pemahaman tentang Alam Semesta menurut ajaran <strong>KAWRUHANA <\/strong>diawali dimana <em>Hyang Jawata menciptakan <\/em>Langit yang kemudian disebut dengan <em>Bapa Akasha <\/em>setelah itu terciptalah Bumi yang disebut juga dengan <em>Ibu Bumi<\/em>. <em>Bapa Akasha<\/em> dan <em>Ibu Bumi<\/em> yang merupakan representasi jagad raya atau alam semesta atau disebut juga dengan <em>Jagad\/Bawana Ageng<\/em> dimana terkandung empat unsur utama yaitu Air (<em>Banyu<\/em>), Tanah (<em>Lemah<\/em>) Api (<em>Geni<\/em>) dan Udara (<em>Angin<\/em>).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam ajaran <strong>KAWRUHANA<\/strong>, <em>Bapa Akasha<\/em> disimbolkan dengan aksara \u201c<strong>Ha<\/strong>\u201d pada aksara Jawa yang juga dimaknai dengan Kejantanan (<strong><em>Ja<\/em><\/strong><em>-ler<\/em>) sedangkan<em> Ibu Bumi<\/em> disimbolkan dengan aksara \u201c<strong>Na<\/strong>\u201d pada aksara Jawa yang dimaknai dengan Kesuburan (<strong><em>Wa<\/em><\/strong><em>-don<\/em>) sehingga <em>Nyawijine Bapa Akasha lan Ibu Bumi, nyawijine aksara \u201c<strong>Ha<\/strong>\u201d lan aksara \u201c<strong>Na<\/strong>\u201d <\/em>menjadi <strong>HANA<\/strong> yang artinya adalah <strong>ada<\/strong>, maka yang disebut dengan <em>Kahanan<\/em> disebut juga dengan sebuah keadaan. Oleh sebab itu ajaran <strong>KAWRUHANA<\/strong> disebut juga dengan ajaran <strong>JAWA<\/strong> dari pemahaman kata <strong><em>Ja<\/em><\/strong><em>-ler<\/em> (<em>Bapa Akasha<\/em>) lan <strong><em>Wa<\/em><\/strong><em>-don<\/em> (<em>Ibu Bumi)<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selain menciptakan <em>Bapa Akasha<\/em> dan <em>Ibu Bumi<\/em>, dalam ajaran <strong>KAWRUHANA<\/strong>, <em>Hyang Jawata<\/em> diyakini menciptakan <em>Hyang Bhatara<\/em> dan <em>Hyang Bhatari <\/em>dalam wujud yang tak kasat mata sebagai \u201c<em>Abdi Dalemipun<\/em> <em>Bapa kalawan Biyung\u201d<\/em> membantu menjaga semua makhluk hidup tidak terkecuali manusia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Hyang Bhatara<\/em> yang kemudian di beri nama <em>Hyang Bhatara Kala <\/em>sebagai <em>Abdi Dalemipun Bapa Akasha<\/em> dan bertempat di <strong>Ka-<em>Hyang<\/em>-an<\/strong>, sementara <em>Hyang Bhatari<\/em> yang diberi nama <em>Hyang Bhatari Sri<\/em> sebagai <em>Abdi Dalemipun Ibu Bumi<\/em> bertempat di <strong>Ka-<em>Bumi<\/em>-an<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Hyang Bhatara Kala<\/em> maupun <em>Hyang Bhatari Sri<\/em> juga bertugas untuk menjaga <em>putra-wayahipun<\/em> (anak-cucu) <em>Bapa Akasha<\/em> dan <em>Ibu Bumi<\/em> sebagai <em>Kaki Among<\/em> dan <em>Nini Among<\/em> yang bertempat di <strong>Ka-<em>Dhatu<\/em>-an<\/strong> yaitu tempat dimana tumbuhan, hewan dan manusia hidup. Oleh sebab itu, dalam ajaran <strong>KAWRUHANA<\/strong>, bertemunya <em>Hyang Bhatara <strong>Kala<\/strong><\/em> dan <em>Hyang Bhatari Sri<\/em> sebagai <em>Kaki Among<\/em> dan <em>Nini Among<\/em> ke <strong>Ka-<em>Dhatu<\/em>-an<\/strong> guna membimbing manusia menuju jalan \u201cKesadaran\u201d atau <em>Eling lan Waspada ma-ngeja wantah<\/em> atau berwujud sebagai <em>SangHyang Smara<\/em> atau <em>Bhatara Guru atau Eyang Semar<\/em> seperti yang dikisahkan dalam epos cerita Jawa <strong>AJISAKA.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading has-text-align-center has-pure-black-color has-luminous-vivid-amber-background-color has-text-color has-background has-link-color wp-elements-1e0c36b9b1b327e49a862b79fe7fda3b\" id=\"tentang-manusia\" style=\"padding-top:0;padding-right:0;padding-bottom:0;padding-left:0\"><strong>TENTANG <\/strong>MANUSIA<\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam sebuah catatan berbahasa Jawa Kuna disebutkan&nbsp;<strong><em>\u201cBapa Sang Hyang Akasa, Ibunta Sang Hyang Prthiwi, patemon Batanta kalawan Ibunta metu raganta jati\u201d<\/em><\/strong>&nbsp; yang maknanya <em>I Bapa adalah Sang Hyang Akasa \u201ceter, ruang\u201d, sebaliknya I Meme adalah Ibu Prthiwi \u201czat padat, bumi\u201d. Pasangyoga \u201csanggama\u201d mereka berdua itulah yang melahirkan dirimu.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Berdasarkan pemahaman yang terdapat dalam catatan berbahasa Jawa Kuna diatas dapat diartikan dimana manusia terlahir dikarenakan <em>nyawijine <strong>Ja<\/strong>-ler (Bapa Akasha) lan <strong>Wa<\/strong>-don (Ibu Bumi) <\/em>yang diawali dengan lahirnya tumbuh-tumbuhan dan hewan sehingga dikatakan sebagai <em>Sedulur Tuwa <\/em>atau \u201cSaudara Tua\u201d sedangkan <em>Bapa Akasha<\/em> dan <em>Ibu Bumi<\/em> disebut sebagai <em>Bapa-Biyung<\/em> yang diyakini sebagai \u201cnenek moyang\u201d sebuah peradaban termasuk manusia di dunia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketika alam semesta yang merupakan <em>Jagad\/Bawana Ageng<\/em> di pahami sebagai \u201cnenek moyang\u201d manusia, maka manusia juga memiliki empat unsur yang sama halnya dengan alam semesta dan dikatakan sebagai <em>Jagad\/Bawana Alit.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Kaki Dan Hyang (Ki Hyang)<\/em> dan <em>Nini Dan Hyang (Ni Hyang) <\/em>dimana keduanya diyakini sebagai leluhur pertama berwujud manusia yang \u201cdilahirkan\u201d oleh <em>Bapa Akasha<\/em> dan <em>Ibu Bumi<\/em> dan disebut <em>Eyang<\/em> <em>Trah-Tumerah <\/em>sampai dengan generasi ke-18. Semua keturunan dari satu generasi ke generasi berikutnya dinamakan <em>Ti Hyang Jawata<\/em> (Titisan <em>Sang Hyang Jawata<\/em>) kemudian disingkat menjadi <em>Tiyang Jawa <\/em>yang dalam bahasa Jawa Kuno dikatakan<em> \u201cWong Jawa\u201d<\/em>. Adapun garis keturunan <em>Tiyang Jawa<\/em> sebagai berikut :<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Nenek Moyang&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; : Bapa Aksha &amp; Ibu Bumi<\/li>\n\n\n\n<li>Moyang ke-18 &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; : Eyang Trah-Tumerah<\/li>\n\n\n\n<li>Moyang ke-17 &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; : Eyang Menyo-menyo<\/li>\n\n\n\n<li>Moyang ke-16&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; : Eyang Menyaman<\/li>\n\n\n\n<li>Moyang ke-15&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; : Eyang Ampleng<\/li>\n\n\n\n<li>Moyang ke-14&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; : Eyang Cumpleng<\/li>\n\n\n\n<li>Moyang ke-13&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; : Eyang Giyeng<\/li>\n\n\n\n<li>Moyang ke-12&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; : Eyang Cendeng<\/li>\n\n\n\n<li>Moyang ke-11&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; : Eyang Gropak Waton<\/li>\n\n\n\n<li>Moyang ke-10&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; : Eyang Galih Asem<\/li>\n\n\n\n<li>Moyang ke-9&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; : Eyang Debog Bosok<\/li>\n\n\n\n<li>Moyang ke-8&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; : Eyang Gropak Senthe<\/li>\n\n\n\n<li>Moyang ke-7&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; : Eyang Gantung Siwur<\/li>\n\n\n\n<li>Moyang ke-6&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; : Eyang Udeg-udeg<\/li>\n\n\n\n<li>Moyang ke-5&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; : Eyang Wareng<\/li>\n\n\n\n<li>Moyang ke-4&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; : Eyang Canggah<\/li>\n\n\n\n<li>Moyang ke-3&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; : Eyang buyut<\/li>\n\n\n\n<li>Moyang ke-2&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; : Eyang<\/li>\n\n\n\n<li>Moyang ke-1&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; : Bapa lan Biyung<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Setiap manusia yang lahir dan hidup diyakini memiliki empat saudara tak kasat mata atau <em>Sedulur Papat<\/em> yaitu <em>Kakang Kawah<\/em> yng berasal dari air ketuban, <em>Adi Ari-ari<\/em> yang berasal dari plasenta, <em>Getih<\/em> atau darah dan <em>puser<\/em> atau tali pusar. <em>Sedulur Papat<\/em> diyakini tidak hanya melindungi janin pada saat berada di dalam kandungan akan tetapi juga menyertai manusia sepanjang hidupnya.<\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading has-text-align-center has-pure-black-color has-luminous-vivid-amber-background-color has-text-color has-background has-link-color wp-elements-5e01d57b63ec3cfc8a85ddd5c469c9e8\" id=\"hubungan-manusia-dengan-maha-pencipta\" style=\"padding-top:0;padding-right:0;padding-bottom:0;padding-left:0\"><strong>HUBUNGAN <\/strong>MANUSIA DENGAN MAHA PENCIPTA<\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurut ajaran <strong>KAWRUHANA<\/strong> bahwa semasa menjadi janin di dalam kandungan tidak terlepas dari peran dari <em>Sang Hyang Jawata<\/em> (Tuhan) sebagai <em>Sing Nduwe Urip<\/em> atau Sang Maha Hidup.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dimana janin di dalam kandungan diberi \u201chidup\u201d atau roh\/sukma oleh <em>Hyang Jawata<\/em> pada saat janin berusia + 105 hari atau sekitar 3,5 bulan. Oleh sebab itu pada usia kehamilan tersebut dilakukanlah suatu ritual yang dinamakan <em>Neloni<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Peristiwa \u201cbersemayamnya\u201d Roh\/Sukma dalam janin dijelaskan dalam mantra <strong>PARAMA SABDA<\/strong> berupa <em>macapat<\/em> (<em>maca baris papat<\/em> atau membaca empat baris) yang terdiri dari 20 aksara Jawa yaitu :<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image aligncenter size-large is-resized\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"527\" src=\"https:\/\/satyabumiputra.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/CARAKA-1024x527.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-343\" style=\"width:700px\" srcset=\"https:\/\/satyabumiputra.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/CARAKA-1024x527.png 1024w, https:\/\/satyabumiputra.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/CARAKA-300x154.png 300w, https:\/\/satyabumiputra.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/CARAKA-768x395.png 768w, https:\/\/satyabumiputra.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/CARAKA.png 1081w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Ha Na Ca Ra Ka<\/strong><br><em>Hananing daya Cipta, Rasa lan Karsa<\/em><br>Adanya daya Cipta, Rasa dan Karsa<br><strong>Da Ta Sa Wa La<\/strong><br><em>Daya kang rubeda lan sami nyawiji<br><\/em>Tiga kekuatan (daya\/energi) yang berbeda namun saling bersinergi<br><strong>Pa Dha Ja Ya Nya<\/strong><br><em>Padha Digdayane<br><\/em>Memiliki (daya\/energi) kekuatan yang sama.<br><strong>Ma Ga Ba Tha Nga<\/strong><br><em>Cumandhok ing raga dadya sukmaning manungsa<br><\/em>Merasuk dalam raga sebagai roh\/sukma manusia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Maka dalam ajaran <strong>KAWRUHANA<\/strong> yang dikatakan \u201c<em>Hananingsun, hananing Gusti<\/em>\u201d dimana kata \u201c<em>ingsun<\/em>\u201d merujuk kepada Roh\/Sukma\u201d yang bersemayam dalam tubuh manusia dan \u201c<em>Gusti<\/em>\u201d merujuk kepada <em>Hyang Jawata<\/em>\/<em>Kang Maha Urip<\/em> atau Tuhan Yang Maha Esa.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Sangkan-Paran ing Dumadi<\/em> memiliki arti emua yang berasal dari-Nya akan menuju kepada asal-Nya. Oleh sebab itu kata \u201c<em>mati<\/em>\u201d dalam bahasa Jawa memiliki makna \u201c<em>Manunggal mring Sejati<\/em>\u201d (Darimana roh berasal pada saatnya akan kembali menuju kepada asal-Nya).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam ajaran <strong>KAWRUHANA<\/strong>, <em>Sangkan-Paran ing Dumadi<\/em> dijabarkan ke dalam 20 Aksara Jawa dengan dibaca dari depan ke belakang (aksara <strong>Ha<\/strong> s\/d aksara <strong>Nga<\/strong>) dan dari belakang ke depan (Aksara <strong>Nga<\/strong> s\/d aksara <strong>Ha<\/strong>)<em>.<\/em> Dimana manusia lahir ke dunia pertama kali menghembuskan nafas melalui mulut dengan aksara <strong>Ha<\/strong> dan pada saat meninggal akan menghembuskan nafas terakhir melalui mulut dengan aksara <strong>Ha<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center wp-block-paragraph\"><strong>SANGKAN<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center wp-block-paragraph\"><strong>HA<\/strong> NA CA RA KA DA TA SA WA LA PA DHA JA YA NYA MA GA BA THA <strong>NGA<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center wp-block-paragraph\"><strong>PARAN<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Siklus perjalanan Roh\/Sukma yang bersifat kekal inilah dalam ajaran <strong>KAWRUHANA<\/strong> juga disebut sebagai <em>Reinkarnasi<\/em> sedangkan kembalinya Roh\/Sukma kepada Sang Maha Pencipta disebut dengan <em>Moksa.<\/em> Dari pemahaman diatas maka pada dasarnya semua makhluk hidup pada dasarnya di dalam <em>jasad<\/em>\/jasmaninya bersemayam Roh Tuhan yang tetap menjadi milik-Nya sehingga dikatakan <em>Hyang Jawata kuwi cedhak tanpa senggolan adoh tanpa wangenan<\/em> artinya adalah dimana Tuhan dekat tanpa batasan dan jauh tanpa batasan.<\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading has-text-align-center has-pure-black-color has-luminous-vivid-amber-background-color has-text-color has-background has-link-color wp-elements-322532cdd05c7665e43df773c322202f\" id=\"hubungan-manusia-dengan-alam-semesta\" style=\"padding-top:0;padding-right:0;padding-bottom:0;padding-left:0\"><strong>HUBUNGAN <\/strong>MANUSIA DENGAN ALAM SEMESTA<\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam ajaran<strong> KAWRUHANA, <\/strong>Alam Semesta (Langit dan Bumi) tidak akan bisa terpisahkan dengan manusia. Maka dikatakan \u201c<em>Hananira, hananing kawula<\/em>\u201d. \u201c<em>Hananira<\/em>\u201d dimana \u201c<em>Nira<\/em>\u201d merujuk kepada Alam Semesta (Langit dan Bumi) sebagai \u201cnenek moyang\u201d bagi semua makhluk sebagai <em>Bapa lan Biyung Ingsun kalawan Nira,<\/em> sekaligus wujud \u201c<em>Pangeran kang Katon\u201d<\/em> sedangkan \u201c<em>Hananing kawula\u201d <\/em>dimana<em> \u201ckawula\u201d <\/em>merujuk pada semua makhluk tidak terkecuali manusia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Alam Semesta (Langit dan Bumi) sebagai <em>Bapa kalawan Biyung<\/em> sekaligus wujud \u201c<em>Pangeran kang Katon<\/em>\u201d adalah tempat dimana kita meyakini, menghormati, mengabdi serta memohon restu-Nya karena restu <em>Bapa kalawan Biyung<\/em> diyakini adalah restu dari <em>Sang Hyang Jawata<\/em> (Tuhan YME). Oleh sebab itu <em>Manunggaling Bawana Alit lan Bawana Ageng<\/em> dimaknai sebagai wujud menyatunya manusia dengan alam semesta.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Sembah-Hyang<\/em> atau <em>Manembah marang Hyang<\/em> dalam ajaran <strong>KAWRUHANA <\/strong>disebut juga <strong>Dharma Bhakti <\/strong>atau<em>Pangabhekten.<\/em> <strong>Dharma Bhakti<\/strong> atau <em>Pangabhekten<\/em> adalah bentuk penghormatan, pengabdian dan permohonan restu kepada <em>Bapa &amp; Biyung<\/em> dalam segala aspek kehidupan yang dijalankan oleh warga penghayat kepercayaan <strong>Satya Bumiputra<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Oleh sebab itu <strong>Dharma Bhakti <\/strong>atau<em>Pangabhekten<\/em> merupakan bentuk <em>Manunggaling Bawana Alit lan Bawana Ageng<\/em> yang dimaknai sebagai wujud menyatunya manusia dengan alam semesta yang juga dikatakan dengan <em>Manunggaling Kawula Gusti<\/em> (Gusti disini merujuk kepada <em>Pangeran kang Katon<\/em>)<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam ajaran <strong>KAWRUHANA<\/strong>, <strong>Dharma Bhakti<\/strong> atau <em>Pangabhekten<\/em> tidak hanya dipahami dalam aspek ritual bersama sarana dan prasarana saja akan tetapi dipahami sebagai jalan menuju kesadaran (menguatkan ikatan batin) yang dilakukan di berbagai aspek kehidupan dalam setiap tarikan nafas dan hembusan nafas kita selama hidup di dunia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Oleh sebab itu agar segala bentuk perbuatan, pikiran, perasaan dan perkataan kita senantiasa sebagai bentuk <strong>Dharma Bhakti<\/strong> atau <em>Pangabhekten<\/em> kita kepada alam semesta dan seisinya, dalam semua aspek tidak terkecuali harus kita pahami, hayati dan lakukan dengan segenap hati atau bersungguh-sungguh. Demikianlah mengapa para leluhur kita selalu berpesan, <em>\u201cyen urip kuwi kudu di ngati-ati\u201d<\/em> dimana artinya adalah bahwa hidup itu harus senantiasa ber-\u201chati-hati\u201d. Kata \u201chati-hati\u201d disini merujuk pada \u201csegenap hati\u201d sehingga apapun yang kita lakukan senantiasa terarah, terukur dan bisa dipertanggung-jawabkan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selain itu dalam ajaran <strong>KAWRUHANA<\/strong> selalu menerapkan prinsip \u201c<em>Ngajeni lan Nyanjeni marang liyan\u201d<\/em> yang artinya menghormati dan berupaya memberi yang terbaik kepada sesama (Alam semesta dan seisinya).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perlunya <em>\u201cNgajeni lan Nyanjeni marang sepadha-padha?\u201d <\/em>di karenakan Alam Semesta dan seisinya dimana tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia secara nyata saling memberikan kontribusi terhadap kehidupan. Terutama tumbuh-tumbuhan dan hewan sangat memberikan kontribusi yang cukup besar bagi kehidupan manusia. Udara yang di hirup, air, tanah, saripati tumbuhan dan hewan yang dikonsumsi, membangun satu ekosistem yang tidak bisa dipisahkan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Itulah mengapa tumbuhan dan hewan dianggap sebagai \u201csaudara tua\u201d, karena tanpa adanya tumbuhan dan hewan maka manusia tidak mungkin bisa bertahan hidup di bumi ini sedangkan tanpa adanya manusia, tumbuhan dan hewan akan tetap bisa bertahan hidup di bumi ini. Namun bagaimanapun juga jika langit dan bumi ini tidak ada maka tidak akan mungkin ada tumbuhan, hewan dan manusia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Oleh sebab itu di dalam ajaran <strong>KAWRUHANA<\/strong>, manusia perlu memberikan penghormatan setinggi-tingginya kepada langit dan bumi. Tidak hanya memandang langit hanyalah sebuah tempat gugusan awan, matahari, bulan dan bintang bertengger akan tetapi sebagai \u201c<strong>BAPA<\/strong>\u201d nya makhluk hidup tidak terkecuali manusia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sosok \u201c<strong>BAPA<\/strong>\u201d yang selalu memberikan kasih sayang, terkadang hujan badai disertai petir seakan \u201cbeliau\u201d sedang marah, terkadang cerah dengan angin yang spoi-spoi seperti \u201cbeliau\u201d sedang berbahagia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebagaimana bumi tidak hanya dipandang sebagai gundukan tanah hingga menjadi gunung dan air yang mengalir dari hulu sampai ke hilir akan tetapi sebagai \u201c<strong>BIYUNG<\/strong>\u201d nya semua makhluk tidak terkecuali manusia. Terkadang gempa, banjir dan longsor melanda seakan beliau sedang \u201cmarah\u201d, namun juga tanahnya yang subur, air nya yang jernih mengalir dari hulu ke hilir menghidupi semua maklhuk dengan kasih sayangnya. Selayaknya kasih sayang kedua orang tua yang telah melahirkan anaknya ke dunia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Maka apa yang bisa diberikan manusia kepada kedua orang tuanya yang telah melahirkan hingga membesarkannya adalah suatu sikap yang sama diberikan kepada langit dan bumi atau alam semesta yang telah memberikan kehidupannya. Bila manusia mampu mewujudkan kasih sayangnya kepada alam semesta secara nyata maka bisa dipastikan tidak akan ada terjadinya eksploitasi alam, polusi udara dan suara hingga pencemaran-pencemaran lain terhadap lingkungan hidup. Maka untaian kasih sayang yang tidak ada hentinya kepada alam semesta adalah Dharma Bhakti atau <em>Pangabhekten<\/em> kita kepada-Nya. Manusia menjaga alam maka alam akan menjaga manusia.<\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading has-text-align-center has-pure-black-color has-luminous-vivid-amber-background-color has-text-color has-background has-link-color wp-elements-18f67ffe5f8f6da9e1b5920a73836042\" id=\"hubungan-manusia-dengan-manusia-lainnya\" style=\"padding-top:0;padding-right:0;padding-bottom:0;padding-left:0\"><strong>HUBUNGAN <\/strong>MANUSIA DENGAN MANUSIA LAINNYA<\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Satu hal lain yang harus di sadari adalah bahwa manusia sebagai makhluk sosial juga berinteraksi dengan manusia lainnya. Berinteraksi dengan orang tua yang melahirkannya, garis leluhur orang tuanya, saudara kandungnya, saudara dari kedua orang tuanya, lingkungannya baik yang dikenal maupun tidak dikenal.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebagai makhluk sosial manusia harus sadar bahwa dirinya berada di sebuah lingkungan yang tidak hanya bersifat <em>homogen<\/em> namun juga <em>heterogen <\/em>dimana baik berkelompok secara <em>homogen<\/em> dan <em>heterogen<\/em> tidak dapat terpisahkan dalam satu waktu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di dalam keluarganya adalah satu kelompok yang bersifat <em>homogen <\/em>&nbsp;namun dalam waktu yang sama ketika satu keluarga berkelompok dengan keluarga lainnya maka akan bersifat heterogen seperti dalam lingkungan RT. Dalam ruang lingkup satu RT kita adalah suatu kelompok yang homogen damun dalam satu RW kita adalah suatu kelompok yang bersifat heterogen karena di setiap RT mungkin memiliki kebijakan yang tidak sama dalam ruang lingkup satu RW. Demikian juga dalam ruang lingkup sebuah dusun, desa\/kelurahan, kecamatan, kota\/kabupaten, provinsi hingga negara.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebagai sesama warga negara bisa menjadi suatu ruang lingkup yang <em>homogen<\/em> atas kesamaan suatu wilayah negara kesatuan juga sebagai satu bangsa atas kesamaan ideologi yaitu <strong>PANCASILA<\/strong> namun juga bisa menjadi masyarakat yang <em>heterogen<\/em> atas keaneka-ragaman suku, ras, keyakinan dan juga kebangsaan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Oleh sebab itu di dalam ajaran <strong>KAWRUHANA<\/strong>, hubungan manusia dengan manusia lainnya sebagai makhluk sosial dalam melaksanakan dharma bhakti harus bisa <em>ngempan-papan<\/em> yaitu bisa menempatkan diri dalam segala situasi dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebagai bangsa wajib berpedoman pada <strong>PANCASILA<\/strong> beserta segenap 45 butir-butirnya berdasarkan Tap MPR No. I\/MPR\/2003 sebagai tata laku\/laksana penghayatan dan pengamalannya, sebagai warga negara wajib menjalankan amanah UUD \u201945 dan aturan hukum perundang-undangannya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Manusia sebagai makhluk sosial dalam kelompoknya yang heterogen tentu tidak akan lepas dari konflik dan berbagai kepentingan dalam berbagai situasi. Oleh karena itu sangat penting untuk membangun mental agar tidak mudah tersulut emosi sesaat yang pada akhirnya hanya merugikan diri sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Petuah-petuah bijak para leluhur seperti, \u201c<em>Aja rumangsa bisa nanging bisaha rumangsa<\/em>, <em>Becik ke thithik ala ketara, Mikul duwhur mendhem jero<\/em>\u201d dan sebagainya menjadi bagian yang tidak terpisahkan di dalam ajaran <strong>KAWRUHANA<\/strong> guna membangun konstruksi berpikir agar tetap \u201cnetral\u201d dalam menghadapi kecemasan, kegelisahan hingga konflik sosial yang terjadi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Cara-cara menyikapi sebuah situasi dengan membangun konstruksi berpikir untuk tetap \u201cnetral\u201d sehingga dengan cepat bisa mengendalikan situasi atau kemampuan dalam mengolah \u201crasa\u201d inilah yang dikatakan sebagai <em>Laku Suwung <\/em>atau<em> Kasunyatan.<\/em><em>Laku Suwung<\/em> atau <em>Kasunyatan<\/em> bukanlah suatu hal yang mudah untuk dipelajari atau dipahami secara instan akan tetapi membutuhkan banyak pembiasaan dan pengalaman. Oleh sebab itu bila ajaran <strong>KAWRUHANA<\/strong> ini diajarkan kepada anak-anak akan sangat mudah baginya untuk membangun sebuah kerangka berpikir yang praktis dan sistematis sehingga tidak hanya membangun kejiwaan atau mental yang kuat akan tetapi juga menumbuhkan kecerdasan dalam berpikir dan bertindak dalam kehidupannya sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>RIWAYAT HIDUP PENERIMA AJARAN Tokoh yang pertama kali menggali, mendalami dan merumuskan ajaran KAWRUHANA adalah Rama Pamadya Aditya R. Kertawidjaja. Beliau lahir di Surabaya, Jawa Timur pada tanggal 9 September 1980 dan merupakan putra pertama dan&nbsp; dua bersaudara.dari pasangan Z.M. Rachman dan R.Ngt. Ermy Friyantini. Walaupun lahir di Surabaya, namun masa kecil beliau pernah tinggal [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"parent":0,"menu_order":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","template":"","meta":{"footnotes":""},"class_list":["post-112","page","type-page","status-publish","hentry"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/satyabumiputra.or.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/112","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/satyabumiputra.or.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/pages"}],"about":[{"href":"https:\/\/satyabumiputra.or.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/page"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/satyabumiputra.or.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/satyabumiputra.or.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=112"}],"version-history":[{"count":65,"href":"https:\/\/satyabumiputra.or.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/112\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":347,"href":"https:\/\/satyabumiputra.or.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/112\/revisions\/347"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/satyabumiputra.or.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=112"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}